Kisah Bersama Momo

Sabtu, 04 Juli 2015

Kisah Bersama Momo




Perkenalkan, namanya Momo. Kecil, hitam, besi, berujung lancip namun bukan pisau. Sehari-hari dia ditemani oleh si putih panjang berkumel, sebut saja dirinya ‘atamerica’ (bukan merujuk ke sebuah tempat di kawasan Senayan), karena memang tulisannya seperti itu. Momo dan ‘atamerica’ selalu bersatu menyatu menjadi satu. Kalau tak ada ‘atamerica’, mungkin si Momo sudah jatuh di tengah jalan tanpa ada kabar. Mungkin kamu harus baca lebih lanjut alasannya kenapa.

Momo sangat berguna dalam keseharianku sebagai orang yang tak terlalu sibuk di rumah dan kampus. Dia selalu kubawa kemanapun aku pergi bersama si hitam Honda. Ketika aku berada di rumah, kugantung si Momo kesayangan di dinding ataupun tergeletak di samping TV. Aku memang sayang Momo, takarannya sama dengan sayangku pada si hitam Honda.

Namun, layaknya orang pacaran bertahun-tahun, hubunganku dan Momo tak semulus yang dibayangkan. Momo kadang bikin aku kesal. Momo kadang bikin aku gemas, Momo kadang bikin aku panik setengah mati. Aku juga kadang menelantarkan dia, aku juga kadang lupa akan keberadaan Momo karena terlalu asyik dengan duniaku sendiri.

Si hitam Honda memang sudah tak muda lagi. Dia sering sakit-sakitan. Dalam sebulan saja, si hitam Honda bolak balik rumah – bengkel dua hingga tiga kali. Keluhannya bermacam-macam: ban kempes, oli menipis, rem blong, lampu tidak menyala hingga komplikasi seperti rantai putus, aki habis dan ban bocor. Momo selalu menemani si hitam Honda di bengkel. Maklum, sang ‘perawat’ di bengkel itu memintaku untuk menaruh si Momo di bengkel dan tidak dibawa pulang. Ketimbang aku menunggu si hitam Honda di bengkel, lebih baik aku pulang saja.

Momo pun juga gak kalah sensitifnya dengan si hitam Honda. Dia harus dirawat baik-baik seperti si hitam Honda. Ketika aku pergi kemanapun dengan  si hitam Honda, aku harus memastikan Momo berada di dalam lubang kunci… dan si ‘atamerica’ yang kuceritakan tadi harus dililitkan di bawah spion agar Momo tidak lepas. Jika Momo digantung sendirian tanpa ‘atamerica’, kemungkinan Momo jatuh di tengah jalan saat aku mengendarai si hitam Honda sangatlah besar. Maklumi Momo kawan, dia dengan si lubang kunci itu sudah tidak seerat dulu. Ketika bertemu dengan jalan bergelombang, polisi tidur, atau ketika aku mengendarai terlalu kencang, seketika itu pula si Momo lepas dari jeratan si lubang kunci. Dia dengan riangnya tergantung dan melayang kesana kemari sepanjang jalan tanpa ada dosa sedikitpun. Momo merasakan sedikit kebebasan ketika setengah badannya terlepas dari lubang kunci. Sejak saat itu, aku merasa panik dan harus menjaga Momo dengan sangat hati-hati.

Aku sudah berniat untuk mengganti Momo dengan si kunci besi yang lain. Namun ada saja halangan yang aku hadapi. Ketika aku memiliki banyak waktu luang, ternyata isi dompet tidak cukup untuk menjiplak bentuk Momo. Ketika isi dompetku cukup banyak, justru aku yang tak punya banyak waktu luang. Momo pasti sangat marah padaku karena ia tak diperhatikan. Juga, Momo pasti iri dengan komponen lain yang selalu aku perhatikan: ban, rem, rantai, lampu, dan lain-lain.

Aku, selain seorang mahasiswa yang malas dan bodoh, juga adalah seorang yang teledor. Aku kadang lupa dengan barang-barang yang kubawa. Apalagi jika barang itu adalah barang yang sangat, sangat berharga. Momo adalah salah satu barang berharga itu.

Dalam empat bulan terakhir, sudah tiga kali aku telantarkan Momo karena keteledoranku. Kasusnya pun hampir sama: aku telantarkan dia di atas si hitam Honda dengan kondisi terjepit di lubang kunci dan terlilit di bawah spion ketika aku bepergian ke suatu tempat.

Pertama, ketika aku berada di sebuah mall di kawasan Bintaro. Kala itu aku bersama seorang teman hendak belanja sepatu dan keperluan lainnya. Aku tak merasa terburu-buru waktu itu. Justru yang ada aku terlalu menikmati candaan bersama temanku dari tempat parkir hingga pintu masuk mall. Ketika kita berada kurang lebih 100 meter jauhnya dari pintu masuk, dan kita sudah 5 menit berada di dalam mall tersebut, aku baru sadar sesuatu ada yang kurang.

Si Momo tertinggal di tempat parkir.

Buru-buru aku lari menuju tempat parkir dan menemui Momo tercinta. Kuyakin pasti Momo menangis sedih ditinggal sang majikan pergi. Ketika aku berada di tempat parkir, kutemui si Momo masih berada di atas si hitam Honda. Dia masih terjepit di lubang kunci, namun kali ini dia berada di lubang kunci jok. Terakhir aku menggunakan si Momo di tempat ini, untuk menaruh jaket dan helm di dalam jok. Beruntunglah si Momo masih sehat walafiat. Tak ada cacat sedikitpun. Dan yang paling penting adalah Momo tak diambil orang untuk dijadikan anak asuh.

Kejadian serupa juga aku alami beberapa minggu yang lalu. Saat itu aku baru tiba di rumah sehabis menguras otak mengerjakan soal UAS di kampus. Saking lelah dan masih stress, aku buru-buru parkir si hitam Honda di samping rumah tetangga dan buru-buru masuk rumah. Ya, karena lahan parkir di teras rumahku terlalu sempit untuk menaruh si hitam Honda, terpaksa kutaruh dia di samping rumah tetangga yang punya sedikit lahan untuk parkir. Lagipula, si empunya rumah juga mengizinkanku untuk parkir si hitam Honda.

Kembali ke cerita sebelumnya, ketika aku buru-buru masuk rumah, beristirahat sejenak, lalu aku tertidur lelap. Karena terlalu capek, aku lupa dengan keadaan di sekitarku. Termasuk kondisi si Momo yang ternyata masih terjepit di lubang kunci si hitam Honda.

Kejadian itu bermula ketika ada seorang tetangga melihat Momo masih tergantung bersama ‘atamerica’ di bawah spion. Lalu si tetangga itu bertanya sambil berteriak, “Ini siapa yang masih naro kunci motor ditinggalin begitu aja?”. Beberapa tetangga mendengar teriakan itu, mendatangi si tetangga yang teriak itu. Seorang tetangga yang samping rumahnya kujadikan lahan parkir itu sadar kalau kunci motor yang dimaksud adalah si Momo kesayanganku.

“Masya Allah, itu kunci motor punya si Tika!”

Kemudian si tetangga itu melapor pada mamaku yang saat itu ada di rumah, dan bilang kalau si Momo masih tersangkut di bawah spion. Buru-buru mama datang dan langsung cabut Momo. Sesampainya di rumah, mama bangunkan diriku dari tidur nyenyak dan sukseslah diriku diceramahi habis-habisan olehnya dalam keadaan setengah sadar.

Dan yang terakhir adalah kejadian paling teledor yang pernah aku alami bersama si Momo, juga menjadi pelajaran berharga untuk tidak lupa dengan barang apapun yang dibawa walaupun dalam keadaan terburu-buru.

Ini baru dialami hari minggu lalu, 28 Juni tepatnya. Saat itu aku berangkat menuju Masjid Istiqlal untuk bertugas sebagai panitia Buka Bersama (Bukber) bagi ribuan anak yatim, dan para panitia akan melakukan final briefing pada jam 1 siang. Berita baiknya adalah aku baru berangkat 3 jam lebih awal dari jadwal briefing. Namun, berita buruknya adalah aku harus berjibaku dengan jalan Ciledug Raya yang super macet karena pekerjaan proyek busway.

Sejujurnya, aku masih bisa sampai di Masjid Istiqlal sebelum jam 1 karena aku menggunakan si hitam Honda. Bodohnya, aku tidak tahu jalan ke sana jika menggunakan motor. Lagipula, Jalan Thamrin (menurut peraturan yang berlaku, entah masih berlaku saat ini atau tidak) kabarnya sudah tidak boleh dilalui kendaraan bermotor, dan mesti melewati jalan alternatif lainnya. Sialnya, aku tak tahu jalan alternatif itu dimana. Aku buta jalan-jalan di Jakarta. Terpaksa aku harus parkir si hitam Honda di sebuah mall di kawasan Senayan, agar aku bisa cepat jalan menuju halte busway dan tiba di Masjid Istiqlal.

Setelah mengitari kawasan parkir mall yang rumit dan mencari lahan parkir motor yang lumayan ribet, aku akhirnya bisa menempatkan si hitam Honda. Kuburu-buru taruh jaket, helm, sarung tangan dan kacamata serta menyimpan tiket parkir dengan hati-hati di dalam tas. Jujur, aku terlalu berhati-hati menyimpan tiket parkir sehingga lupa dengan satu hal yang tidak kalah penting dari tiket itu.

Lagi lagi, Momo tertinggal di tempat parkir dengan kondisi terjepit si lubang kunci dan melilit di bawah spion.

Satu hal terbodoh yang aku lakukan saat itu adalah aku terlalu pede menyimpan barang-barang dan menganggap semuanya tak ada yang tertinggal. Sampai akhirnya aku sadar kalau Momo tertinggal di tempat parkir……

25 menit sebelum waktu berbuka puasa.

Kampret. Cuman kata itu yang bisa aku ungkapkan atas kebodohanku di minggu itu. Aku merasa panik tingkat dewa dibalik kebahagiaan anak-anak yatim saat berbuka puasa. Konyol banget, kenapa baru sadar sekarang di saat si hitam Honda sudah diparkir lebih dari 6 jam? Terlalu fokus untuk kegiatan ini tanpa memikirkan diri sendiri memang tidak baik. Aku tak mungkin guling-guling sambil menangis di depan anak-anak sambil bilang ‘Deeek... kunci motor kakak ketinggalan, deeek’. Terpaksa aku tersenyum sambil tertawa bersama anak-anak itu, padahal dalam hati sudah meringis kepanikan tidak karuan. Pikiran ingin buru-buru pulang sudah tertanam dalam diriku. Bahkan, aku terpaksa izin pulang duluan pada panitia (dan anak-anak yatim yang masih ada di Istiqlal) demi bisa bertemu dengan si Momo.

Sepulang dari Istiqlal, aku buru-buru menuju mall tersebut sambil berharap si Momo masih ada tersangkut di dalam lubang kunci si hitam Honda. Dan setibanya di sana, aku melihat si Momo sudah tidak ada lagi terekat bersama si hitam Honda. Seketika itu pula, air mata langsung tumpah meruah dan tangan mulai lemas. Siap-siap pulang ke rumah tuntun motor, Tika.

Aku tidak menyerah begitu saja. Kukerahkan segala cara agar motorku bisa bergerak dan dapat menyala tanpa kehadiran Momo, walaupun presentase keberhasilan ini akan sangat kecil. Kugunakan alat-alat lancip untuk menggerakan lubang kunci ke arah jarum jam, seperti ujung tali helm, pulpen, bahkan jarum pentul sekalipun.

Namun, tetap saja, usahaku gagal. Pikiran ‘Siap siap pulang ke rumah tuntun motor dan jadi sasaran empuk tukang begal’ makin jelas muncul di otakku.

Sampai akhirnya, salah satu staf parkir mall itu datang menghampiri aku. ‘Motornya kenapa, mbak?’. Kujelaskan cerita panjang ini pada staf parkir itu, sambil berharap staf itu menjadi ‘malaikat pelindung’ Momo. Nasibku di malam itu bergantung pada kebaikan hati sang staf parkir yang mau membantu mencarikan si Momo kesayangan.

Lalu, si staf parkir itu meminta STNK si hitam Honda kepadaku. Entahlah tujuannya untuk apa. Apakah dia ingin melapor pada bosnya lalu dia membuat pemberitahuan melalui speaker mall kalau ada berita kehilangan, atau yang lebih buruk lagi… si staf parkir melapor pada bosnya lalu aku dibawa ke sebuah ruangan dan diwawancara habis-habisan karena si Momo hilang.

Tapi aku yakin, dan sangat yakin kalau si Momo sudah pasti tertinggal di mall ini. Toh, semenjak aku keluar dari mall itu, aku tidak merasa ada tanda-tanda keberadaan Momo di dalam tas. Bahkan selama aku membuka dan menutup tas di Masjid Istiqlal, Momo memang tidak ada.

Si staf parkir itu berjalan menuju tempat penitipan helm, lalu ia bergegas mengecek sesuatu. Entahlah apa yang ia cek. Yang pastinya pikiranku malah makin tidak karuan. Tak lama kemudian, si staf itu memanggilku untuk segera ke tempat penitipan helm. Di sana, staf itu menunjukkan 3 barang yang ada di sebuah laci. Dan semuanya adalah… kunci motor.

‘Mbak, kunci motornya yang ini, ya?’ Dia menunjuk pada sebuah kunci motor, berwarna hitam, lancip, dan memiliki tali panjang putih berkumel bertuliskan ‘atamerica’.

ITU MOMO. ITU MOMO. *CAMERA ZOOM IN, BACKSOUND DRAMATIC*

Akhirnya, setelah penantian panjang yang penuh drama dan panik yang luar biasa, Momo masih ada di dalam gedung itu dan tak diambil oleh orang yang tak bertanggungjawab. Aku bersyukur, haru dan senang sekaligus. Momo masih ada di sana, Momo tidak hilang. Momo hanya dititipkan pada sang penjaga parkir mall itu. Entahlah apa yang terjadi jika Momo benar-benar hilang, mungkin aku akan telepon ayahku dan siap-siap ‘dicincang’ habis-habisan olehnya.

Lalu apa yang terjadi kemudian antara aku dan Momo? Kita kembali berdua, ehm… bertiga bersama si hitam Honda. Kembali bersama-sama mengitari Jakarta Selatan di malam hari, dan aku kembali memarkirkan si hitam Honda di tempat lain... karena aku punya janji night meet up bersama teman-temanku di kawasan Bulungan.

Begitulah kisahku bersama si hitam kecil bernama Momo, sang kunci motor yang selalu mewarnai hari-hariku di saat suka dan duka. Jika mengingat kisah-kisah di atas, keinginanku untuk menggandakan si kunci motor semakin besar. Aku takut kehilangan si Momo lagi L


@TikaAuliaaa

0 komentar :

Posting Komentar