Perkenalkan,
namanya Momo. Kecil, hitam, besi, berujung lancip namun bukan pisau. Sehari-hari
dia ditemani oleh si putih panjang berkumel, sebut saja dirinya ‘atamerica’ (bukan
merujuk ke sebuah tempat di kawasan Senayan), karena memang tulisannya seperti
itu. Momo dan ‘atamerica’ selalu bersatu menyatu menjadi satu. Kalau tak ada ‘atamerica’,
mungkin si Momo sudah jatuh di tengah jalan tanpa ada kabar. Mungkin kamu harus
baca lebih lanjut alasannya kenapa.
Momo sangat
berguna dalam keseharianku sebagai orang yang tak terlalu sibuk di rumah dan
kampus. Dia selalu kubawa kemanapun aku pergi bersama si hitam Honda. Ketika
aku berada di rumah, kugantung si Momo kesayangan di dinding ataupun tergeletak
di samping TV. Aku memang sayang Momo, takarannya sama dengan sayangku pada si
hitam Honda.
Namun, layaknya
orang pacaran bertahun-tahun, hubunganku dan Momo tak semulus yang dibayangkan.
Momo kadang bikin aku kesal. Momo kadang bikin aku gemas, Momo kadang bikin aku
panik setengah mati. Aku juga kadang menelantarkan dia, aku juga kadang lupa
akan keberadaan Momo karena terlalu asyik dengan duniaku sendiri.
Si hitam Honda
memang sudah tak muda lagi. Dia sering sakit-sakitan. Dalam sebulan saja, si
hitam Honda bolak balik rumah – bengkel dua hingga tiga kali. Keluhannya
bermacam-macam: ban kempes, oli menipis, rem blong, lampu tidak menyala hingga
komplikasi seperti rantai putus, aki habis dan ban bocor. Momo selalu menemani
si hitam Honda di bengkel. Maklum, sang ‘perawat’ di bengkel itu memintaku
untuk menaruh si Momo di bengkel dan tidak dibawa pulang. Ketimbang aku
menunggu si hitam Honda di bengkel, lebih baik aku pulang saja.
Momo pun juga gak
kalah sensitifnya dengan si hitam Honda. Dia harus dirawat baik-baik seperti si
hitam Honda. Ketika aku pergi kemanapun dengan
si hitam Honda, aku harus memastikan Momo berada di dalam lubang kunci…
dan si ‘atamerica’ yang kuceritakan tadi harus dililitkan di bawah spion agar
Momo tidak lepas. Jika Momo digantung sendirian tanpa ‘atamerica’, kemungkinan
Momo jatuh di tengah jalan saat aku mengendarai si hitam Honda sangatlah besar.
Maklumi Momo kawan, dia dengan si lubang kunci itu sudah tidak seerat dulu.
Ketika bertemu dengan jalan bergelombang, polisi tidur, atau ketika aku
mengendarai terlalu kencang, seketika itu pula si Momo lepas dari jeratan si
lubang kunci. Dia dengan riangnya tergantung dan melayang kesana kemari sepanjang
jalan tanpa ada dosa sedikitpun. Momo merasakan sedikit kebebasan ketika
setengah badannya terlepas dari lubang kunci. Sejak saat itu, aku merasa panik
dan harus menjaga Momo dengan sangat hati-hati.
Aku sudah berniat
untuk mengganti Momo dengan si kunci besi yang lain. Namun ada saja halangan
yang aku hadapi. Ketika aku memiliki banyak waktu luang, ternyata isi dompet
tidak cukup untuk menjiplak bentuk Momo. Ketika isi dompetku cukup banyak,
justru aku yang tak punya banyak waktu luang. Momo pasti sangat marah padaku
karena ia tak diperhatikan. Juga, Momo pasti iri dengan komponen lain yang
selalu aku perhatikan: ban, rem, rantai, lampu, dan lain-lain.
Aku, selain
seorang mahasiswa yang malas dan bodoh, juga adalah seorang yang teledor. Aku
kadang lupa dengan barang-barang yang kubawa. Apalagi jika barang itu adalah
barang yang sangat, sangat berharga. Momo adalah salah satu barang berharga
itu.
Dalam empat bulan
terakhir, sudah tiga kali aku telantarkan Momo karena keteledoranku. Kasusnya
pun hampir sama: aku telantarkan dia di atas si hitam Honda dengan kondisi
terjepit di lubang kunci dan terlilit di bawah spion ketika aku bepergian ke
suatu tempat.
Pertama, ketika
aku berada di sebuah mall di kawasan Bintaro. Kala itu aku bersama seorang teman
hendak belanja sepatu dan keperluan lainnya. Aku tak merasa terburu-buru waktu
itu. Justru yang ada aku terlalu menikmati candaan bersama temanku dari tempat
parkir hingga pintu masuk mall. Ketika kita berada kurang lebih 100 meter
jauhnya dari pintu masuk, dan kita sudah 5 menit berada di dalam mall tersebut,
aku baru sadar sesuatu ada yang kurang.
Si Momo
tertinggal di tempat parkir.
Buru-buru aku
lari menuju tempat parkir dan menemui Momo tercinta. Kuyakin pasti Momo
menangis sedih ditinggal sang majikan pergi. Ketika aku berada di tempat
parkir, kutemui si Momo masih berada di atas si hitam Honda. Dia masih terjepit
di lubang kunci, namun kali ini dia berada di lubang kunci jok. Terakhir aku
menggunakan si Momo di tempat ini, untuk menaruh jaket dan helm di dalam jok.
Beruntunglah si Momo masih sehat walafiat. Tak ada cacat sedikitpun. Dan yang
paling penting adalah Momo tak diambil orang untuk dijadikan anak asuh.
Kejadian serupa
juga aku alami beberapa minggu yang lalu. Saat itu aku baru tiba di rumah
sehabis menguras otak mengerjakan soal UAS di kampus. Saking lelah dan masih stress, aku buru-buru parkir si hitam
Honda di samping rumah tetangga dan buru-buru masuk rumah. Ya, karena lahan
parkir di teras rumahku terlalu sempit untuk menaruh si hitam Honda, terpaksa
kutaruh dia di samping rumah tetangga yang punya sedikit lahan untuk parkir.
Lagipula, si empunya rumah juga mengizinkanku untuk parkir si hitam Honda.
Kembali ke cerita
sebelumnya, ketika aku buru-buru masuk rumah, beristirahat sejenak, lalu aku
tertidur lelap. Karena terlalu capek, aku lupa dengan keadaan di sekitarku.
Termasuk kondisi si Momo yang ternyata masih terjepit di lubang kunci si hitam
Honda.
Kejadian itu
bermula ketika ada seorang tetangga melihat Momo masih tergantung bersama ‘atamerica’
di bawah spion. Lalu si tetangga itu bertanya sambil berteriak, “Ini siapa yang
masih naro kunci motor ditinggalin begitu aja?”. Beberapa tetangga mendengar
teriakan itu, mendatangi si tetangga yang teriak itu. Seorang tetangga yang
samping rumahnya kujadikan lahan parkir itu sadar kalau kunci motor yang
dimaksud adalah si Momo kesayanganku.
“Masya Allah, itu
kunci motor punya si Tika!”
Kemudian si
tetangga itu melapor pada mamaku yang saat itu ada di rumah, dan bilang kalau
si Momo masih tersangkut di bawah spion. Buru-buru mama datang dan langsung
cabut Momo. Sesampainya di rumah, mama bangunkan diriku dari tidur nyenyak dan
sukseslah diriku diceramahi habis-habisan olehnya dalam keadaan setengah sadar.
Dan yang terakhir
adalah kejadian paling teledor yang pernah aku alami bersama si Momo, juga
menjadi pelajaran berharga untuk tidak lupa dengan barang apapun yang dibawa
walaupun dalam keadaan terburu-buru.
Ini baru dialami
hari minggu lalu, 28 Juni tepatnya. Saat itu aku berangkat menuju Masjid
Istiqlal untuk bertugas sebagai panitia Buka Bersama (Bukber) bagi ribuan anak
yatim, dan para panitia akan melakukan final
briefing pada jam 1 siang. Berita baiknya adalah aku baru berangkat 3 jam
lebih awal dari jadwal briefing.
Namun, berita buruknya adalah aku harus berjibaku dengan jalan Ciledug Raya yang
super macet karena pekerjaan proyek busway.
Sejujurnya, aku
masih bisa sampai di Masjid Istiqlal sebelum jam 1 karena aku menggunakan si
hitam Honda. Bodohnya, aku tidak tahu jalan ke sana jika menggunakan motor.
Lagipula, Jalan Thamrin (menurut peraturan yang berlaku, entah masih berlaku
saat ini atau tidak) kabarnya sudah tidak boleh dilalui kendaraan bermotor, dan
mesti melewati jalan alternatif lainnya. Sialnya, aku tak tahu jalan alternatif
itu dimana. Aku buta jalan-jalan di Jakarta. Terpaksa aku harus parkir si hitam
Honda di sebuah mall di kawasan Senayan, agar aku bisa cepat jalan menuju halte
busway dan tiba di Masjid Istiqlal.
Setelah mengitari
kawasan parkir mall yang rumit dan mencari lahan parkir motor yang lumayan
ribet, aku akhirnya bisa menempatkan si hitam Honda. Kuburu-buru taruh jaket,
helm, sarung tangan dan kacamata serta menyimpan tiket parkir dengan hati-hati
di dalam tas. Jujur, aku terlalu berhati-hati menyimpan tiket parkir sehingga
lupa dengan satu hal yang tidak kalah penting dari tiket itu.
Lagi lagi, Momo
tertinggal di tempat parkir dengan kondisi terjepit si lubang kunci dan melilit
di bawah spion.
Satu hal terbodoh
yang aku lakukan saat itu adalah aku terlalu pede menyimpan barang-barang dan menganggap semuanya tak ada yang
tertinggal. Sampai akhirnya aku sadar kalau Momo tertinggal di tempat parkir……
25 menit sebelum
waktu berbuka puasa.
Kampret. Cuman
kata itu yang bisa aku ungkapkan atas kebodohanku di minggu itu. Aku merasa
panik tingkat dewa dibalik kebahagiaan anak-anak yatim saat berbuka puasa.
Konyol banget, kenapa baru sadar
sekarang di saat si hitam Honda sudah diparkir lebih dari 6 jam? Terlalu fokus
untuk kegiatan ini tanpa memikirkan diri sendiri memang tidak baik. Aku tak
mungkin guling-guling sambil menangis di depan anak-anak sambil bilang ‘Deeek...
kunci motor kakak ketinggalan, deeek’. Terpaksa aku tersenyum sambil tertawa
bersama anak-anak itu, padahal dalam hati sudah meringis kepanikan tidak
karuan. Pikiran ingin buru-buru pulang sudah tertanam dalam diriku. Bahkan, aku
terpaksa izin pulang duluan pada panitia (dan anak-anak yatim yang masih ada di
Istiqlal) demi bisa bertemu dengan si Momo.
Sepulang dari
Istiqlal, aku buru-buru menuju mall tersebut sambil berharap si Momo masih ada
tersangkut di dalam lubang kunci si hitam Honda. Dan setibanya di sana, aku
melihat si Momo sudah tidak ada lagi terekat bersama si hitam Honda. Seketika
itu pula, air mata langsung tumpah meruah dan tangan mulai lemas. Siap-siap
pulang ke rumah tuntun motor, Tika.
Aku tidak
menyerah begitu saja. Kukerahkan segala cara agar motorku bisa bergerak dan
dapat menyala tanpa kehadiran Momo, walaupun presentase keberhasilan ini akan
sangat kecil. Kugunakan alat-alat lancip untuk menggerakan lubang kunci ke arah
jarum jam, seperti ujung tali helm, pulpen, bahkan jarum pentul sekalipun.
Namun, tetap
saja, usahaku gagal. Pikiran ‘Siap siap pulang ke rumah tuntun motor dan jadi
sasaran empuk tukang begal’ makin jelas muncul di otakku.
Sampai akhirnya,
salah satu staf parkir mall itu datang menghampiri aku. ‘Motornya kenapa,
mbak?’. Kujelaskan cerita panjang ini pada staf parkir itu, sambil berharap staf
itu menjadi ‘malaikat pelindung’ Momo. Nasibku di malam itu bergantung pada
kebaikan hati sang staf parkir yang mau membantu mencarikan si Momo kesayangan.
Lalu, si staf
parkir itu meminta STNK si hitam Honda kepadaku. Entahlah tujuannya untuk apa.
Apakah dia ingin melapor pada bosnya lalu dia membuat pemberitahuan melalui speaker mall kalau ada berita
kehilangan, atau yang lebih buruk lagi… si staf parkir melapor pada bosnya lalu
aku dibawa ke sebuah ruangan dan diwawancara habis-habisan karena si Momo
hilang.
Tapi aku yakin,
dan sangat yakin kalau si Momo sudah pasti tertinggal di mall ini. Toh,
semenjak aku keluar dari mall itu, aku tidak merasa ada tanda-tanda keberadaan
Momo di dalam tas. Bahkan selama aku membuka dan menutup tas di Masjid Istiqlal,
Momo memang tidak ada.
Si staf parkir
itu berjalan menuju tempat penitipan helm, lalu ia bergegas mengecek sesuatu.
Entahlah apa yang ia cek. Yang pastinya pikiranku malah makin tidak karuan. Tak
lama kemudian, si staf itu memanggilku untuk segera ke tempat penitipan helm.
Di sana, staf itu menunjukkan 3 barang yang ada di sebuah laci. Dan semuanya
adalah… kunci motor.
‘Mbak, kunci
motornya yang ini, ya?’ Dia menunjuk pada sebuah kunci motor, berwarna hitam,
lancip, dan memiliki tali panjang putih berkumel bertuliskan ‘atamerica’.
ITU MOMO. ITU
MOMO. *CAMERA ZOOM IN, BACKSOUND DRAMATIC*
Akhirnya, setelah
penantian panjang yang penuh drama dan panik yang luar biasa, Momo masih ada di
dalam gedung itu dan tak diambil oleh orang yang tak bertanggungjawab. Aku bersyukur,
haru dan senang sekaligus. Momo masih ada di sana, Momo tidak hilang. Momo
hanya dititipkan pada sang penjaga parkir mall itu. Entahlah apa yang terjadi
jika Momo benar-benar hilang, mungkin aku akan telepon ayahku dan siap-siap
‘dicincang’ habis-habisan olehnya.
Lalu apa yang
terjadi kemudian antara aku dan Momo? Kita kembali berdua, ehm… bertiga bersama
si hitam Honda. Kembali bersama-sama mengitari Jakarta Selatan di malam hari,
dan aku kembali memarkirkan si hitam Honda di tempat lain... karena aku punya
janji night meet up bersama
teman-temanku di kawasan Bulungan.
Begitulah kisahku
bersama si hitam kecil bernama Momo, sang kunci motor yang selalu mewarnai
hari-hariku di saat suka dan duka. Jika mengingat kisah-kisah di atas,
keinginanku untuk menggandakan si kunci motor semakin besar. Aku takut
kehilangan si Momo lagi L
@TikaAuliaaa
0 komentar :
Posting Komentar