Juli 2017

Sabtu, 29 Juli 2017

DUNKIRK : SEBUAH REVIEW DARI SI AMATIRAN



[WARNING: Mengandung banyak spoiler. Disarankan membaca review ini setelah nonton.]


Gue memang pecinta film-film bertema sejarah, terutama sejarah Inggris. Namun, ketika dihadapkan untuk menonton film yang berhubungan langsung dengan perang, gue berpikir panjang lebar.

Seperti penonton kebanyakan, terutama penonton perempuan yang masih mengandalkan sisi emosional dalam menentukan film apa yang mau ditonton weekend ini, film perang tergolong sadis dan dicoret dari to-do-watch-list. Pertumpahan darah di mana mana, deru tembakan selalu mengalir terus menerus tiada henti, korban tak berdosa berjatuhan, dan hal-hal lain yang membuat tipe penonton ini memilih untuk menyaksikan film ber-genre romantis.

Namun suatu hari, ketika gue sedang iseng melihat information screen yang ada di suatu pusat perbelanjaan dan menemukan nama Dunkirk tertera sebagai film yang akan ditayangkan di bioskop tersebut, gue langsung memasukkan nama itu ke dalam to-do-watch-list gue tahun ini, selain The Murder on the Orient Express dan The Current War.

Kata Dunkirk sendiri sebenarnya gak terlalu asing di telinga gue. Sebelumnya, gue pernah nonton film yang mengangkat topik tersebut dari sisi yang beda. Mungkin bagi yang tahu film Atonement dan brengseknya plot twist yang ditampilkan serta Benedict Cumberbatch yang hampir gue anggap seperti pedofil, pasti masih ingat ada beberapa scene di mana tokoh utama pria bernama Robbie Turner terperangkap dalam wilayah pesisir pantai Dunkirk dengan serangan bom bertubi-tubi dan perjuangannya untuk bisa bertahan hidup hingga tiba di London. Gambaran mengenai peristiwa Dunkirk bisa gue tangkap di film ini, walaupun gak terlalu banyak dan fokus cerita di film ini terletak pada persoalan kecemburuan sang adik terhadap kakaknya yang pacaran dengan pria yang ia suka.

Gue sebenarnya punya sense of curiosity yang kuat terhadap peristiwa Dunkirk, yang memang pernah terjadi di masa Perang Dunia I. Apa masalahnya? Dan kenapa bisa terjadi? Dan siapa saja pihak yang terlibat di dalamnya? Dan dampak dari peristiwa Dunkirk seperti apa? Layaknya para mahasiswa yang jenuh membaca buku sejarah beratus-ratus halaman dan ditambah dengan kejenuhan membaca salah satu novel misteri yang sedang gue teliti, gue ingin mengetahui peristiwa Battle of Dunkirk dengan cara yang berbeda dengan durasi pemahaman yang cukup singkat. Dan menonton film adalah satu cara yang tepat bagi gue.

Buat yang belum tahu apa itu Dunkirk dan Battle of Dunkirk, itu sebenarnya peristiwa operasi militer yang tergolong sadis di Perang Dunia I. Saat itu Inggris yang bersekutu dengan Prancis dan beberapa negara lainnya kalah perang dengan Jerman, sehingga wilayah kekuasaan yang dipegang Inggris and its alleys nya harus direbut paksa oleh Jerman, salah satunya adalah Dunkirk, sebuah kota yang berada di utara Prancis dan pantainya mengarah langsung ke lautan Inggris. Karena kekuatan Jerman saat itu sangat kuat, mereka bisa menekan mundur para tentara Inggris dan Prancis hingga Dunkirk adalah titik terakhir dari kekuasaan mereka. Para tentara yang sudah dianggap kalah di medan perang ingin segera pulang kampung dan bertemu dengan keluarganya di rumah, namun apa daya serangan demi serangan dari Jerman menahan keinginan mereka untuk bisa kembali. Nah, di film Dunkirk lah bakal diungkit kembali bagaimana kisah tentara-tentara tersebut dievakuasi dan diangkut pulang ke Inggris dengan segala ketakutan dan kecemasan serta usaha untuk bertahan hidup dari serangan Jerman.



Di bagian exposition film garapan Christopher Nolan tersebut, gue menyaksikan lima orang tentara berlarian di kawasan perkotaan yang sepi layaknya kota mati, dengan raut muka yang penuh panik dan ketakutan mencoba untuk kabur dari serangan tembakan yang dengan seenak jidat dilemparkan oleh musuh. Beberapa di antaranya mencoba bertahan hidup dengan meminum air kran dan menghisap sisa rokok, lalu ditembak hingga terkapar tak berdaya, hingga pada akhirnya hanya satu tentara yang berhasil selamat dari serangan musuh dan tibalah ia di kawasan pesisir pantai Dunkirk. Di awal cerita saja, gue sudah menemukan sense of suspense yang luar biasa ketika Tommy, yang diperankan oleh si debutan bernama Fionn Whitehead, dan kawan-kawan tentara lainnya berlarian menghindar dari terjangan peluru. Apalagi dengan scene serangan ledakan musuh pada kapal yang mengangkut tentara pulang ke Inggris. Dengan tanpa dosa, sang musuh yang identitasnya tidak disebut secara eksplisit di film ini melakukan serangan bertubi-tubi. Hal inilah yang membuat jantung gue makin berdegup luar biasa kencang.




Ditambah lagi dengan sound effect yang muncul ketika film berlangsung; ledakan torpedo dan tembakan dari arah manapun yang memekakkan telinga, gesekan biola di tengah rombongan tentara mengantri masuk kapal, musik-musik menegangkan kala pesawat musuh mendekati tentara Inggris, hingga suara jarum jam bertempo cepat yang membuat gue ingin berteriak pada petugas bioskop untuk mengecilkan volume. Dan setelah gue telusuri lebih lanjut, ternyata kekuatan dari film ini terletak pada aransemen musik dari seorang maestro bernama Hans Zimmer. Ingin rasanya gue berkata kasar lalu lempar high heels pada komposer ini saking suaranya bikin suspenseful!


Poin plus yang menjadi kejeniusan Nolan di film Dunkirk selanjutnya adalah Point of View (PoV) atau dalam istilah kesusasteraan Indonesia disebut sudut pandang. Nolan menggunakan tiga segi sudut pandang di film ini, sesuai dengan jalur penyelamatan tentara: darat, udara, dan laut. Di darat, kita bisa bertemu dengan si Tommy yang akhirnya mencoba berbagai cara agar dia bisa keluar dari bibir pantai Dunkirk tanpa tertembak mati oleh sang musuh. Ia bertemu dengan beberapa tentara lainnya, termasuk Alex yang diperankan oleh Harry Styles. Ya, Harry Styles. Di udara, kita menyaksikan betapa heroiknya Collins dan Farrier berkali-kali melumpuhkan pesawat musuh hingga membuat kondisi pesisir Dunkirk menjadi lebih damai. Di laut, terdapat ayah dan anak beserta salah seorang remaja yang merupakan warga sipil Inggris dengan sukarela menggunakan kapal kecilnya untuk evakuasi tentara yang berjatuhan di laut lepas. Ini yang membuat cerita dalam Dunkirk menjadi kaya dan lebih menegangkan.


Resiko dari penceritaan dengan teknik sudut pandang lebih dari satu adalah kurangnya eksplorasi setiap karakter di film ini. Jarang sekali gue mendengar nama-nama tokoh yang menjadi sorot utama di film ini, terutama di sudut pandang jalur darat. Bahkan dari awal hingga akhir cerita pun gue enggak tahu sosok tentara berwajah imut yang jadi cover film ini ternyata bernama Tommy, hingga gue menemukan jawabannya di IMDb beberapa menit setelah keluar dari bioskop, padahal sebenarnya bisa gue temuin di credit session. Selain itu, di jalur laut, tidak adanya interaksi antara tentara AU dari pihak musuh dengan Collins (tentara AU dari pihak Inggris) ketika mereka dievakuasi di kapal kecil milik warga sipil, padahal sebelumnya di pesawat mereka saling serang satu sama lain sebelum salah satu ada yang tercebur ke laut. Seharusnya interaksi antar kedua tentara dari pihak yang berbeda bisa dieksplorasi lebih lanjut dan bahkan bisa lebih seru lagi.

Mungkin permasalahan gak ada darah di film Dunkirk menjadi pro dan kontra di kalangan penonton dan reviewers film bertema perang, karena pada hakikatnya darah dan peperangan sudah menjadi satu kesatuan layaknya amplop dan perangko, dan itulah yang menjadi salah satu faktor yang selalu dikritik habis habisan. Padahal, tanpa darah sekalipun di film Dunkirk adalah salah satu yang menjadi favorit gue. Bagi orang-orang yang tidak tahan melihat darah atau melihat raut wajah mayat, film Dunkirk tergolong masih aman untuk ditonton. Karena gue sadar, bukanlah pertempuran dan kekerasan yang menjadi inti utama di film ini, melainkan evakuasi. Evakuasi inilah yang menjadi kunci utama serta inti cerita yang ingin disampaikan Nolan kepada penonton. Ya, evakuasi tentara Inggris yang kalah di medan perang dan berharap ingin segera pulang ke rumah, lalu saat pulang pun mereka masih diserang habis-habisan oleh pihak musuh.



Semua orang pun tahu bahwa dalam Perang Dunia baik I atau II, Inggris bersama dengan Prancis dan beberapa negara lainnya berseteru dengan Jerman. Namun di film ini, tidak ada atribut atau hal-hal lainnya yang menonjolkan bahwa musuh yang menyerang tentara Inggris adalah Jerman. Justru, dengan kejeniusan Nolan, karateristik musuh hanya diekspos melalui munculnya pesawat tempur yang siap meledakkan kapal serta manusia-manusia yang menumpang di dalamnya serta suara tembakan yang menyerang Tommy dan tentara lainnya. Nama Jerman dalam film ini pun disamarkan dengan istilah “enemy” atau musuh, dalam subtitle Indonesia-nya. Jerman hanya disebut sekali saja, itupun kala si tentara AU dari pihak musuh memberitahukan para warga sipil bahwa ada kapal milik Jerman. Itu saja.



Di paruh awal hingga pertengahan film, jarang sekali para tokoh tentara melakukan dialog verbal. Mereka hanya menggunakan gestur tubuh dan wajah untuk merepresentasikan ketakutan, kecemasan, dan harapan agar mereka selamat dan pulang ke kampung halaman. Mereka tiarap dan menundukkan kepala ketika bom berjatuhan dan tembakan dilontarkan. Sembunyi dari dalam dek kapal pun bukan berarti mereka selamat, justru mereka malah makin terancam dan kemungkinan mereka mati karena ledakan bom dari musuh pun semakin besar. Salah satu cara agar bertahan hidup adalah berenang dan mengapung di antara lautan luas dengan berbekal pelampung. Disinilah sisi psikologis dan humanis yang dapat diambil di film ini, bahwa sebesar apapun perang tersebut dan sekeras apapun mental sang tentara, pasti ada masa di mana mereka berada dalam kondisi tertekan secara psikologis dan tak mampu lagi menghadapi segala situasi di sekitarnya, pada akhirnya menimbulkan rasa takut yang luar biasa dan hasrat ingin meninggalkan medan perang. Seperti si tentara AU dari pihak musuh yang selalu merunduk ketakutan setelah dievakuasi dan tidak mau diajak bicara, Tommy yang menutup telinganya di dalam laut ketika ledakan bom jatuh di kapal yang sebelumnya ia tumpangi, Gibson yang bungkam dan menjauh pada tentara Inggris karena ia merupakan tentara Prancis yang juga ingin pergi ke Inggris, bahkan ketika sang Commander Bolton mengatakan “home” sambil meneteskan air mata karena rindu dengan kampung halaman. Ini bisa dibuktikan bahwa perang bisa menimbulkan rasa depresi dan trauma yang besar bagi siapapun yang terlibat di dalamnya, termasuk tentara yang mempunyai mental baja sekalipun.



Dan gue masih berpikir bila nasib Tommy, Alex, Gibson, si tentara AU dan tentara-tentara lainnya yang terlibat Battle of Dunkirk bakal mengalami gangguan kejiwaan bernama Post-Traumatic Stress Disorder yang sama seperti yang dialami John Watson dalam serial TV Sherlock. Mungkin Dunkirk bisa dibuat sekuel dan menceritakan kehidupan para tentara setelah Dunkirk, in which itu antara penting atau waste of money lah ya :P Tapi entahlah, gue merasa suka penasaran terhadap kehidupan tentara Perang Dunia pasca mengikuti perang dan pulang kampung dengan tanpa senjata serta memori-memori kelam yang masih diingat.

Oh iya, last but not least, Harry Styles is not so bad. Awalnya gue sangat meragukan kapabilitas sosok Harry Styles bermain film, apalagi berperan sebagai tentara. Yaaa kalian tentu tahu betul record-nya di One Direction itu, dengan stereotype boyband yang terkesan menyeh-menyeh. Namun, ia cukup capable kok untuk memerankan tokoh tentara bernama Alex dengan aksen Inggris yang sangat kental itu. Harry Styles di Dunkirk sangat mengingatkan gue dengan Rihanna, walaupun gayanya terlihat aduhai ternyata masih bisa berakting sangat maskulin di film Battleship. And yeah, jangan lupakan Fionn Whitehead si newcomer itu. Walaupun sebenarnya tampang wajahnya bagi gue terlalu cute sebagai tentara dan lebih cocok bermain sebagai warga sipil, ia bisa memerankan sosok Tommy.



Gue sangat mengapresiasi film Dunkirk dengan memberikan rating 8/10 karena kemampuan sound effect yang bikin gue kaget hingga ingin berkata kasar serta ramuan plot cerita perang dengan sisi humanis yang luar biasa dan gak biasa dari film perang lainnya. Dunkirk sukses bikin orang yang gak suka film perang, malah dibuat jatuh cinta. Dan kalaupun nanti Dunkirk masuk ke dalam nominasi penghargaan Oscar, gue sangat mendukung untuk masuk kategori Best Music. Gue sangat menantikan itu, pasti!