Gue
memang pecinta film-film bertema sejarah, terutama sejarah Inggris. Namun,
ketika dihadapkan untuk menonton film yang berhubungan langsung dengan perang,
gue berpikir panjang lebar.
Seperti
penonton kebanyakan, terutama penonton perempuan yang masih mengandalkan sisi
emosional dalam menentukan film apa yang mau ditonton weekend ini, film perang tergolong sadis dan dicoret dari to-do-watch-list. Pertumpahan darah di
mana mana, deru tembakan selalu mengalir terus menerus tiada henti, korban tak
berdosa berjatuhan, dan hal-hal lain yang membuat tipe penonton ini memilih
untuk menyaksikan film ber-genre
romantis.
Namun
suatu hari, ketika gue sedang iseng melihat information
screen yang ada di suatu pusat perbelanjaan dan menemukan nama Dunkirk tertera sebagai film yang akan ditayangkan
di bioskop tersebut, gue langsung memasukkan nama itu ke dalam to-do-watch-list gue tahun ini, selain The Murder on the Orient Express dan The Current War.
Kata
Dunkirk sendiri sebenarnya gak
terlalu asing di telinga gue. Sebelumnya, gue pernah nonton film yang
mengangkat topik tersebut dari sisi yang beda. Mungkin bagi yang tahu film Atonement dan brengseknya plot twist yang ditampilkan serta Benedict
Cumberbatch yang hampir gue anggap seperti pedofil, pasti masih ingat ada
beberapa scene di mana tokoh utama
pria bernama Robbie Turner terperangkap dalam wilayah pesisir pantai Dunkirk
dengan serangan bom bertubi-tubi dan perjuangannya untuk bisa bertahan hidup
hingga tiba di London. Gambaran mengenai peristiwa Dunkirk bisa gue tangkap di film ini, walaupun gak terlalu banyak
dan fokus cerita di film ini terletak pada persoalan kecemburuan sang adik terhadap
kakaknya yang pacaran dengan pria yang ia suka.
Gue
sebenarnya punya sense of curiosity
yang kuat terhadap peristiwa Dunkirk,
yang memang pernah terjadi di masa Perang Dunia I. Apa masalahnya? Dan kenapa
bisa terjadi? Dan siapa saja pihak yang terlibat di dalamnya? Dan dampak dari
peristiwa Dunkirk seperti apa? Layaknya para mahasiswa yang jenuh membaca buku
sejarah beratus-ratus halaman dan ditambah dengan kejenuhan membaca salah satu
novel misteri yang sedang gue teliti, gue ingin mengetahui peristiwa Battle of Dunkirk dengan cara yang
berbeda dengan durasi pemahaman yang cukup singkat. Dan menonton film adalah
satu cara yang tepat bagi gue.
Buat
yang belum tahu apa itu Dunkirk dan Battle of Dunkirk, itu sebenarnya peristiwa
operasi militer yang tergolong sadis di Perang Dunia I. Saat itu Inggris yang bersekutu
dengan Prancis dan beberapa negara lainnya kalah perang dengan Jerman, sehingga
wilayah kekuasaan yang dipegang Inggris and
its alleys nya harus direbut paksa oleh Jerman, salah satunya adalah
Dunkirk, sebuah kota yang berada di utara Prancis dan pantainya mengarah
langsung ke lautan Inggris. Karena kekuatan Jerman saat itu sangat kuat, mereka
bisa menekan mundur para tentara Inggris dan Prancis hingga Dunkirk adalah
titik terakhir dari kekuasaan mereka. Para tentara yang sudah dianggap kalah di
medan perang ingin segera pulang kampung dan bertemu dengan keluarganya di
rumah, namun apa daya serangan demi serangan dari Jerman menahan keinginan
mereka untuk bisa kembali. Nah, di film Dunkirk
lah bakal diungkit kembali bagaimana kisah tentara-tentara tersebut dievakuasi
dan diangkut pulang ke Inggris dengan segala ketakutan dan kecemasan serta
usaha untuk bertahan hidup dari serangan Jerman.
Di
bagian exposition film garapan
Christopher Nolan tersebut, gue menyaksikan lima orang tentara berlarian di kawasan
perkotaan yang sepi layaknya kota mati, dengan raut muka yang penuh panik dan
ketakutan mencoba untuk kabur dari serangan tembakan yang dengan seenak jidat
dilemparkan oleh musuh. Beberapa di antaranya mencoba bertahan hidup dengan
meminum air kran dan menghisap sisa rokok, lalu ditembak hingga terkapar tak
berdaya, hingga pada akhirnya hanya satu tentara yang berhasil selamat dari
serangan musuh dan tibalah ia di kawasan pesisir pantai Dunkirk. Di awal cerita
saja, gue sudah menemukan sense of suspense
yang luar biasa ketika Tommy, yang diperankan oleh si debutan bernama Fionn
Whitehead, dan kawan-kawan tentara lainnya berlarian menghindar dari terjangan
peluru. Apalagi dengan scene serangan
ledakan musuh pada kapal yang mengangkut tentara pulang ke Inggris. Dengan
tanpa dosa, sang musuh yang identitasnya tidak disebut secara eksplisit di film
ini melakukan serangan bertubi-tubi. Hal inilah yang membuat jantung gue makin
berdegup luar biasa kencang.
Ditambah
lagi dengan sound effect yang muncul
ketika film berlangsung; ledakan torpedo dan tembakan dari arah manapun yang
memekakkan telinga, gesekan biola di tengah rombongan tentara mengantri masuk
kapal, musik-musik menegangkan kala pesawat musuh mendekati tentara Inggris,
hingga suara jarum jam bertempo cepat yang membuat gue ingin berteriak pada
petugas bioskop untuk mengecilkan volume. Dan setelah gue telusuri lebih
lanjut, ternyata kekuatan dari film ini terletak pada aransemen musik dari
seorang maestro bernama Hans Zimmer. Ingin rasanya gue berkata kasar lalu
lempar high heels pada komposer ini
saking suaranya bikin suspenseful!
Poin
plus yang menjadi kejeniusan Nolan di film Dunkirk
selanjutnya adalah Point of View
(PoV) atau dalam istilah kesusasteraan Indonesia disebut sudut pandang. Nolan
menggunakan tiga segi sudut pandang di film ini, sesuai dengan jalur
penyelamatan tentara: darat, udara, dan laut. Di darat, kita bisa bertemu
dengan si Tommy yang akhirnya mencoba berbagai cara agar dia bisa keluar dari
bibir pantai Dunkirk tanpa tertembak mati oleh sang musuh. Ia bertemu dengan
beberapa tentara lainnya, termasuk Alex yang diperankan oleh Harry Styles. Ya,
Harry Styles. Di udara, kita menyaksikan betapa heroiknya Collins dan Farrier
berkali-kali melumpuhkan pesawat musuh hingga membuat kondisi pesisir Dunkirk
menjadi lebih damai. Di laut, terdapat ayah dan anak beserta salah seorang
remaja yang merupakan warga sipil Inggris dengan sukarela menggunakan kapal
kecilnya untuk evakuasi tentara yang berjatuhan di laut lepas. Ini yang membuat
cerita dalam Dunkirk menjadi kaya dan lebih menegangkan.
Resiko
dari penceritaan dengan teknik sudut pandang lebih dari satu adalah kurangnya
eksplorasi setiap karakter di film ini. Jarang sekali gue mendengar nama-nama
tokoh yang menjadi sorot utama di film ini, terutama di sudut pandang jalur
darat. Bahkan dari awal hingga akhir cerita pun gue enggak tahu sosok tentara
berwajah imut yang jadi cover film ini ternyata bernama Tommy, hingga gue menemukan
jawabannya di IMDb beberapa menit setelah keluar dari bioskop, padahal
sebenarnya bisa gue temuin di credit
session. Selain itu, di jalur laut, tidak adanya interaksi antara tentara
AU dari pihak musuh dengan Collins (tentara AU dari pihak Inggris) ketika
mereka dievakuasi di kapal kecil milik warga sipil, padahal sebelumnya di
pesawat mereka saling serang satu sama lain sebelum salah satu ada yang
tercebur ke laut. Seharusnya interaksi antar kedua tentara dari pihak yang
berbeda bisa dieksplorasi lebih lanjut dan bahkan bisa lebih seru lagi.
Mungkin
permasalahan gak ada darah di film Dunkirk menjadi pro dan kontra di kalangan
penonton dan reviewers film bertema
perang, karena pada hakikatnya darah dan peperangan sudah menjadi satu kesatuan
layaknya amplop dan perangko, dan itulah yang menjadi salah satu faktor yang
selalu dikritik habis habisan. Padahal, tanpa darah sekalipun di film Dunkirk
adalah salah satu yang menjadi favorit gue. Bagi orang-orang yang tidak tahan
melihat darah atau melihat raut wajah mayat, film Dunkirk tergolong masih aman
untuk ditonton. Karena gue sadar, bukanlah pertempuran dan kekerasan yang
menjadi inti utama di film ini, melainkan evakuasi. Evakuasi inilah yang
menjadi kunci utama serta inti cerita yang ingin disampaikan Nolan kepada
penonton. Ya, evakuasi tentara Inggris yang kalah di medan perang dan berharap
ingin segera pulang ke rumah, lalu saat pulang pun mereka masih diserang
habis-habisan oleh pihak musuh.
Semua
orang pun tahu bahwa dalam Perang Dunia baik I atau II, Inggris bersama dengan
Prancis dan beberapa negara lainnya berseteru dengan Jerman. Namun di film ini,
tidak ada atribut atau hal-hal lainnya yang menonjolkan bahwa musuh yang
menyerang tentara Inggris adalah Jerman. Justru, dengan kejeniusan Nolan,
karateristik musuh hanya diekspos melalui munculnya pesawat tempur yang siap
meledakkan kapal serta manusia-manusia yang menumpang di dalamnya serta suara
tembakan yang menyerang Tommy dan tentara lainnya. Nama Jerman dalam film ini
pun disamarkan dengan istilah “enemy” atau musuh, dalam subtitle Indonesia-nya.
Jerman hanya disebut sekali saja, itupun kala si tentara AU dari pihak musuh
memberitahukan para warga sipil bahwa ada kapal milik Jerman. Itu saja.
Di
paruh awal hingga pertengahan film, jarang sekali para tokoh tentara melakukan
dialog verbal. Mereka hanya menggunakan gestur tubuh dan wajah untuk
merepresentasikan ketakutan, kecemasan, dan harapan agar mereka selamat dan
pulang ke kampung halaman. Mereka tiarap dan menundukkan kepala ketika bom berjatuhan
dan tembakan dilontarkan. Sembunyi dari dalam dek kapal pun bukan berarti
mereka selamat, justru mereka malah makin terancam dan kemungkinan mereka mati
karena ledakan bom dari musuh pun semakin besar. Salah satu cara agar bertahan
hidup adalah berenang dan mengapung di antara lautan luas dengan berbekal
pelampung. Disinilah sisi psikologis dan humanis yang dapat diambil di film
ini, bahwa sebesar apapun perang tersebut dan sekeras apapun mental sang
tentara, pasti ada masa di mana mereka berada dalam kondisi tertekan secara
psikologis dan tak mampu lagi menghadapi segala situasi di sekitarnya, pada
akhirnya menimbulkan rasa takut yang luar biasa dan hasrat ingin meninggalkan
medan perang. Seperti si tentara AU dari pihak musuh yang selalu merunduk ketakutan
setelah dievakuasi dan tidak mau diajak bicara, Tommy yang menutup telinganya
di dalam laut ketika ledakan bom jatuh di kapal yang sebelumnya ia tumpangi,
Gibson yang bungkam dan menjauh pada tentara Inggris karena ia merupakan
tentara Prancis yang juga ingin pergi ke Inggris, bahkan ketika sang Commander
Bolton mengatakan “home” sambil meneteskan air mata karena rindu dengan kampung
halaman. Ini bisa dibuktikan bahwa perang bisa menimbulkan rasa depresi dan
trauma yang besar bagi siapapun yang terlibat di dalamnya, termasuk tentara yang
mempunyai mental baja sekalipun.
Dan
gue masih berpikir bila nasib Tommy, Alex, Gibson, si tentara AU dan
tentara-tentara lainnya yang terlibat Battle
of Dunkirk bakal mengalami gangguan kejiwaan bernama Post-Traumatic Stress Disorder yang sama seperti yang dialami John
Watson dalam serial TV Sherlock.
Mungkin Dunkirk bisa dibuat sekuel
dan menceritakan kehidupan para tentara setelah Dunkirk, in which itu antara penting atau waste of money lah ya :P Tapi entahlah, gue merasa suka penasaran
terhadap kehidupan tentara Perang Dunia pasca mengikuti perang dan pulang
kampung dengan tanpa senjata serta memori-memori kelam yang masih diingat.
Oh
iya, last but not least, Harry Styles
is not so bad. Awalnya gue sangat
meragukan kapabilitas sosok Harry Styles bermain film, apalagi berperan sebagai
tentara. Yaaa kalian tentu tahu betul record-nya
di One Direction itu, dengan stereotype boyband yang terkesan
menyeh-menyeh. Namun, ia cukup capable
kok untuk memerankan tokoh tentara bernama Alex dengan aksen Inggris yang
sangat kental itu. Harry Styles di Dunkirk
sangat mengingatkan gue dengan Rihanna, walaupun gayanya terlihat aduhai
ternyata masih bisa berakting sangat maskulin di film Battleship. And yeah, jangan
lupakan Fionn Whitehead si newcomer
itu. Walaupun sebenarnya tampang wajahnya bagi gue terlalu cute sebagai tentara dan lebih cocok bermain sebagai warga sipil,
ia bisa memerankan sosok Tommy.
Gue
sangat mengapresiasi film Dunkirk
dengan memberikan rating 8/10 karena kemampuan sound effect yang bikin gue
kaget hingga ingin berkata kasar serta ramuan plot cerita perang dengan sisi
humanis yang luar biasa dan gak biasa dari film perang lainnya. Dunkirk sukses bikin orang yang gak suka
film perang, malah dibuat jatuh cinta. Dan kalaupun nanti Dunkirk masuk ke dalam nominasi penghargaan Oscar, gue sangat mendukung untuk masuk kategori Best Music. Gue sangat menantikan itu,
pasti!








