Curhatan Seorang Mantan Fans Karbitan

Kamis, 23 Januari 2014

Curhatan Seorang Mantan Fans Karbitan


Ngenes gue semalem nonton MU. Ngenes. Can't describe the feeling when my team defeated by one of the "underdog" teams in Premier League, in Semi final round. Lebih parah lagi ketika mayoritas penendang penalti yang masih muda, gak bisa mencetak gol satupun. Hanya Fletcher yang bisa, yang notabene pemain senior.

Sebagai fans, gue sedih banget liat hasil pertandingan MU akhir-akhir ini. Apalagi dengan transisi pelatih dari Opa Fergie ke David Moyes, MU bener-bener mengalami perubahan yang besar. Bukannya perubahan yang lebih baik, justru perubahan yang gak diinginkan fans. Kekalahan demi kekalahan di EPL, terdampar diluar klasemen "Fantastic Four" yang biasanya jadi langganan MU, memulai tahun 2014 dengan 3 kekalahan beruntun, tersingkir di Piala FA, dan terakhir dan juga salah satu harapan terakhir fans : tersingkir di Capital One Cup. Masih ada sih harapan di Liga Champions, but UCL is not EPL, dude. Can United win a title while they have to against the teams like Bayern Munchen or Barcelona with the condition like THIS?!?!? Sounds impossible.

Gue pun juga kecewa dengan kinerja Moyes. Kecewa banget. Tentunya selain kekalahan bertubi-tubi, cedera panjang Robin van Persie buat gue makin "gerah" tiap update starting XI setiap pertandingan MU. "Mana van Persie? Mana?" itu pertanyaan yang kerap kali muncul tiap liat starting XI akhir-akhir ini. Gak cuman van Persie, Rooney pun juga cedera. Kecewa banget. How the world are they injured at the same time when United still need them? What makes, Moyes, what makes?

Dan yang lebih bikin gue kecewa, salah satu pelatih kebugaran timnas Belanda, Raymond Verheijen, bilang kalo porsi latihan yang Moyes terapkan selama ini buruk. Doi yang juga jadi terapis van Persie selama cedera bilang kalo van Persie dipaksa main 90 menit lawan Newcastle, dimana doi baru aja sembuh dari cedera. Lalu, doi cedera lagi! Parah. Selengkapnya lo bisa baca kritikan Verheijen di sini.

Di saat kondisi MU lagi jelek-jeleknya, fans MU udah terbagi dalam 3 kubu. Karena terlalu panjang untuk dijelasin, gue akan jelasin di paragraf selanjutnya.
  1. Kubu pertama, diisi oleh fans sejati MU yang selalu mendukung timnya menang ataupun kalah, siapapun itu pemainnya, siapapun itu pelatihnya. Mau Fergie kek, mau Moyes kek, mau Sir Matt Busby balik lagi pun juga mereka terima. Mereka-mereka inilah yang punya semboyan "In Moyes We Trust" ataupun "In United We Trust"
  2. Kubu kedua, diisi oleh fans sejati MU juga, tapi kubu ini sepertinya masih gagal move on dari eranya Opa Fergie. Hoping for winning, trophy, winning, trophy, like what Fergie did. Dan ketika MU dilatih oleh Moyes dan hasil-hasil pertandingan yang tentunya mengecewakan fans, merekalah yang membuat semboyan "Moyes Out". Setiap MU mengalami kekalahan, ada ada saja kritikan yang dibuat kubu ini terhadap Moyes. Mulai dari kebijakan transfer yang bisa dikategorikan "panic transfer", gak bisa mengoptimalkan pemain-pemain yang ada, banyak pemain yang main kurang bagus, taktik permainan yang kaku, dan lain-lain. Football is not about winning, dude.
  3. Kubu terakhir dan juga *mungkin* kubu terbanyak dalam fans MU, diisi oleh fans MU yang hanya memikirkan kemenangan terus-terusan. Kalo udah kalah dikit aja, hmmm.... they will brace themselves up and look for another team which always win in every game. Julukan "Glory Hunter"? Ya, itu julukan dalam bahasa Inggrisnya. Dalam bahasa Indonesia? Fans karbitan namanya :))
Btw tentang fans karbitan, gue pernah pengalaman jadi fans yang tiap hari ngedukung dua tim. Dan pada akhirnya, gue harus fix memilih antara tim ini atau tim itu. So, let's check it out.

Gue memulai peruntungan gue sebagai fans karbitan sekitar akhir tahun 2011. Berawal dari sebuah pertandingan MU dimana salah satu pemain favorit gue saat itu tiba-tiba cedera dan gak bisa lanjut maen, karena saat itu gue mau nonton kalo ada pemain itu, makanya gue mengganti channel gue ke stasiun TV lain. Pas banget, disitu juga ada pertandingan bola salah satu tim eropa. Dan tepat pula, saat itu ada seorang pemain yang mencetak gol. Namanya.... ah kasih tau gak ya? :P

Btw, sebelum gue cerita lebih jauh lagi, gue sengaja menyembunyikan identitas nama pemain serta klub demi nama baik dan loyalitas gue. Okay, sounds silly I think.

Kembali ke topik di paragraf sebelumnya. Saat gue nonton pertandingan itu, gue bener bener terkesima sama pemain ini. Skill goceknya, gaya mainnya yang khas, serta golnya yang lumayan cantik bikin gue makin suka sama pemain ini. Lebih seneng lagi, saat itu man of the match pertandingan itu adalah, ya, dia sendiri.

Semenjak saat itu, gue makin suka sama pemain ini. Yaaa... kayak fans-fans cewek kebanyakan, nyari info sedalem-dalemnya dan sebanyak-banyaknya tentang pemain ini. Bahkan info privasi doi sekalipun. Hahahaha, that's how my "detective" was going.

Trus, gimana sama klubnya? Well.... semenjak gue suka sama pemain ini, gue juga suka sama klubnya. Gue selalu ngikutin infonya, sempet nge-follow akun oficial klubnya dan juga fanbase dari Indonesia maupun dari luar. Btw, klubnya emang bagus sih, banyak pemain yang terkenal dengan trofi yang melimpah. But.... something happened and I have less respect for the club. Sorry to say buat yang udah tau klub mana yang gue maksud.

Pertama, biarpun pemain ini punya skill yang bagus, tapi ternyata dia termasuk "underrated player". Yaaa, entahlah. Dia seperti di-nomor dua-kan oleh klubnya. Walaupun dia sering masuk starting line up, mainnya bagus, sering jadi man of the match, tapi yaaa.... dia emang kalah popularitas dari team-mate nya yang terkenal banget. Kedua, dan yang paling gue benci, di musim ini, posisi dia udah mulai digeser sama salah satu pemain baru, yang posisinya sama persis sama dia. No need to say who is, ya.

Dan gara-gara pemain baru itulah, gue justru lebih berharap pemain favorit gue ini gabung ke MU. Yeaaaah mungkin udah 2 tahunan gue ngarepin ini. Lama, yes? Eh tapi seriusan loh. If he doesn't have a chance to play, why don't he move to another club? He'd rather move than stay in benchwarmer!

Oke, uneg-uneg gue seputar pemain ini udah gue keluarin semua. Secara tersirat, lo udah tau kan alasan kenapa gue suka sama klub ini. But..... status gue sebagai fans karbitan pun gak berlangsung lama. Gue pernah dibully oleh salah satu akun gara-gara bio sama foto profil menunjukkan gue adalah fans karbitan *ga perlu dijelasin spesifikasi bio - avatarnya kayak gimana. Memalukan.*. Gue pun juga pernah disindir gara-gara sering retweet tentang hal-hal yang berbau klub tersebut, sama salah satu akun pribadi fans MU. Banyak kejadian lain yang seakan-akan "menampar" gue buat kembali ke jalur yang bener : jalur fans sejati.

Gue pun juga sempet mikir, gue sebenernya lebih dukung tim mana sih? MU atau tim itu? Saat itu dua-duanya lagi bagus, biarpun MU gagal juara cuman gara-gara beda poin sama Shitty. Biarpun pula di saat yang sama klub itu juga menjuarai salah satu kompetisi, tapi tetep aja gue gak ngerasain suatu kebanggaan menjadi seorang fans klub itu. Dan lo tau apa yang gue pikirkan ketika tim itu memenangkan suatu kompetisi? Gue cuman nungguin foto-foto pas pemain favorit gue megang trofi sama gigit medali. Itu doang. Beda banget rasanya pas MU kembali dapetin gelar EPL musim kemaren, gue sorak sorak sendirian di rumah sampe pagi, hampir nangis terharu. Dan pas MU gagal dapet trofi EPL, gue nangis. Gue langsung matiin TV dan ngurung diri di kamar. Emang lebay sih, tapi begitulah kenyataannya.

Kayaknya emang hati gue cuman buat MU deh, gak buat tim lain. Emang beda ya rasanya dukung tim sepakbola dari hati ketimbang dari kemenangan, trofi, atau pemain. Beda banget. Dan semenjak saat itu, gue bener-bener ngerasain arti dari "a true fan".

Dan ya, saat ini gue hanya dukung satu klub sepakbola saja. Manchester United. Sebobrok apapun prestasinya, seancur apapun taktik pelatih yang ditunjuk, sejelek apapun permainan yang ditunjukkan para pemainnya, sebodoh apapun pemilik klub dalam nanganin transfer window, tetep aja, kalo hati udah sama United, nothing can change it. No one can stop my love for United, even if I get mocked by a Liverpool fan or others. I love United! Ah, jadi terharu :') *tisu mana tisu*

Sekian keluh kesah saya tentang rasanya menjadi seorang fans karbitan dan juga fans MU yang lagi dilanda cobaan krisis kemenangan. Semoga Bapak Moyes mengerti apa yang saya dan fans MU rasakan sekarang. Pak, baca blog saya ya kalo ngerti bahasa Indonesia :P

Eh tapi sebenernya gue masih karbitan sih. Serius loh. Tapi beda tim. Dan juga beda cabang olahraga, cabang balap motor. Tapi masih gapapa kan? Gapapa dong :P





@TikaAuliaaa

0 komentar :

Posting Komentar