2017

Sabtu, 29 Juli 2017

DUNKIRK : SEBUAH REVIEW DARI SI AMATIRAN



[WARNING: Mengandung banyak spoiler. Disarankan membaca review ini setelah nonton.]


Gue memang pecinta film-film bertema sejarah, terutama sejarah Inggris. Namun, ketika dihadapkan untuk menonton film yang berhubungan langsung dengan perang, gue berpikir panjang lebar.

Seperti penonton kebanyakan, terutama penonton perempuan yang masih mengandalkan sisi emosional dalam menentukan film apa yang mau ditonton weekend ini, film perang tergolong sadis dan dicoret dari to-do-watch-list. Pertumpahan darah di mana mana, deru tembakan selalu mengalir terus menerus tiada henti, korban tak berdosa berjatuhan, dan hal-hal lain yang membuat tipe penonton ini memilih untuk menyaksikan film ber-genre romantis.

Namun suatu hari, ketika gue sedang iseng melihat information screen yang ada di suatu pusat perbelanjaan dan menemukan nama Dunkirk tertera sebagai film yang akan ditayangkan di bioskop tersebut, gue langsung memasukkan nama itu ke dalam to-do-watch-list gue tahun ini, selain The Murder on the Orient Express dan The Current War.

Kata Dunkirk sendiri sebenarnya gak terlalu asing di telinga gue. Sebelumnya, gue pernah nonton film yang mengangkat topik tersebut dari sisi yang beda. Mungkin bagi yang tahu film Atonement dan brengseknya plot twist yang ditampilkan serta Benedict Cumberbatch yang hampir gue anggap seperti pedofil, pasti masih ingat ada beberapa scene di mana tokoh utama pria bernama Robbie Turner terperangkap dalam wilayah pesisir pantai Dunkirk dengan serangan bom bertubi-tubi dan perjuangannya untuk bisa bertahan hidup hingga tiba di London. Gambaran mengenai peristiwa Dunkirk bisa gue tangkap di film ini, walaupun gak terlalu banyak dan fokus cerita di film ini terletak pada persoalan kecemburuan sang adik terhadap kakaknya yang pacaran dengan pria yang ia suka.

Gue sebenarnya punya sense of curiosity yang kuat terhadap peristiwa Dunkirk, yang memang pernah terjadi di masa Perang Dunia I. Apa masalahnya? Dan kenapa bisa terjadi? Dan siapa saja pihak yang terlibat di dalamnya? Dan dampak dari peristiwa Dunkirk seperti apa? Layaknya para mahasiswa yang jenuh membaca buku sejarah beratus-ratus halaman dan ditambah dengan kejenuhan membaca salah satu novel misteri yang sedang gue teliti, gue ingin mengetahui peristiwa Battle of Dunkirk dengan cara yang berbeda dengan durasi pemahaman yang cukup singkat. Dan menonton film adalah satu cara yang tepat bagi gue.

Buat yang belum tahu apa itu Dunkirk dan Battle of Dunkirk, itu sebenarnya peristiwa operasi militer yang tergolong sadis di Perang Dunia I. Saat itu Inggris yang bersekutu dengan Prancis dan beberapa negara lainnya kalah perang dengan Jerman, sehingga wilayah kekuasaan yang dipegang Inggris and its alleys nya harus direbut paksa oleh Jerman, salah satunya adalah Dunkirk, sebuah kota yang berada di utara Prancis dan pantainya mengarah langsung ke lautan Inggris. Karena kekuatan Jerman saat itu sangat kuat, mereka bisa menekan mundur para tentara Inggris dan Prancis hingga Dunkirk adalah titik terakhir dari kekuasaan mereka. Para tentara yang sudah dianggap kalah di medan perang ingin segera pulang kampung dan bertemu dengan keluarganya di rumah, namun apa daya serangan demi serangan dari Jerman menahan keinginan mereka untuk bisa kembali. Nah, di film Dunkirk lah bakal diungkit kembali bagaimana kisah tentara-tentara tersebut dievakuasi dan diangkut pulang ke Inggris dengan segala ketakutan dan kecemasan serta usaha untuk bertahan hidup dari serangan Jerman.



Di bagian exposition film garapan Christopher Nolan tersebut, gue menyaksikan lima orang tentara berlarian di kawasan perkotaan yang sepi layaknya kota mati, dengan raut muka yang penuh panik dan ketakutan mencoba untuk kabur dari serangan tembakan yang dengan seenak jidat dilemparkan oleh musuh. Beberapa di antaranya mencoba bertahan hidup dengan meminum air kran dan menghisap sisa rokok, lalu ditembak hingga terkapar tak berdaya, hingga pada akhirnya hanya satu tentara yang berhasil selamat dari serangan musuh dan tibalah ia di kawasan pesisir pantai Dunkirk. Di awal cerita saja, gue sudah menemukan sense of suspense yang luar biasa ketika Tommy, yang diperankan oleh si debutan bernama Fionn Whitehead, dan kawan-kawan tentara lainnya berlarian menghindar dari terjangan peluru. Apalagi dengan scene serangan ledakan musuh pada kapal yang mengangkut tentara pulang ke Inggris. Dengan tanpa dosa, sang musuh yang identitasnya tidak disebut secara eksplisit di film ini melakukan serangan bertubi-tubi. Hal inilah yang membuat jantung gue makin berdegup luar biasa kencang.




Ditambah lagi dengan sound effect yang muncul ketika film berlangsung; ledakan torpedo dan tembakan dari arah manapun yang memekakkan telinga, gesekan biola di tengah rombongan tentara mengantri masuk kapal, musik-musik menegangkan kala pesawat musuh mendekati tentara Inggris, hingga suara jarum jam bertempo cepat yang membuat gue ingin berteriak pada petugas bioskop untuk mengecilkan volume. Dan setelah gue telusuri lebih lanjut, ternyata kekuatan dari film ini terletak pada aransemen musik dari seorang maestro bernama Hans Zimmer. Ingin rasanya gue berkata kasar lalu lempar high heels pada komposer ini saking suaranya bikin suspenseful!


Poin plus yang menjadi kejeniusan Nolan di film Dunkirk selanjutnya adalah Point of View (PoV) atau dalam istilah kesusasteraan Indonesia disebut sudut pandang. Nolan menggunakan tiga segi sudut pandang di film ini, sesuai dengan jalur penyelamatan tentara: darat, udara, dan laut. Di darat, kita bisa bertemu dengan si Tommy yang akhirnya mencoba berbagai cara agar dia bisa keluar dari bibir pantai Dunkirk tanpa tertembak mati oleh sang musuh. Ia bertemu dengan beberapa tentara lainnya, termasuk Alex yang diperankan oleh Harry Styles. Ya, Harry Styles. Di udara, kita menyaksikan betapa heroiknya Collins dan Farrier berkali-kali melumpuhkan pesawat musuh hingga membuat kondisi pesisir Dunkirk menjadi lebih damai. Di laut, terdapat ayah dan anak beserta salah seorang remaja yang merupakan warga sipil Inggris dengan sukarela menggunakan kapal kecilnya untuk evakuasi tentara yang berjatuhan di laut lepas. Ini yang membuat cerita dalam Dunkirk menjadi kaya dan lebih menegangkan.


Resiko dari penceritaan dengan teknik sudut pandang lebih dari satu adalah kurangnya eksplorasi setiap karakter di film ini. Jarang sekali gue mendengar nama-nama tokoh yang menjadi sorot utama di film ini, terutama di sudut pandang jalur darat. Bahkan dari awal hingga akhir cerita pun gue enggak tahu sosok tentara berwajah imut yang jadi cover film ini ternyata bernama Tommy, hingga gue menemukan jawabannya di IMDb beberapa menit setelah keluar dari bioskop, padahal sebenarnya bisa gue temuin di credit session. Selain itu, di jalur laut, tidak adanya interaksi antara tentara AU dari pihak musuh dengan Collins (tentara AU dari pihak Inggris) ketika mereka dievakuasi di kapal kecil milik warga sipil, padahal sebelumnya di pesawat mereka saling serang satu sama lain sebelum salah satu ada yang tercebur ke laut. Seharusnya interaksi antar kedua tentara dari pihak yang berbeda bisa dieksplorasi lebih lanjut dan bahkan bisa lebih seru lagi.

Mungkin permasalahan gak ada darah di film Dunkirk menjadi pro dan kontra di kalangan penonton dan reviewers film bertema perang, karena pada hakikatnya darah dan peperangan sudah menjadi satu kesatuan layaknya amplop dan perangko, dan itulah yang menjadi salah satu faktor yang selalu dikritik habis habisan. Padahal, tanpa darah sekalipun di film Dunkirk adalah salah satu yang menjadi favorit gue. Bagi orang-orang yang tidak tahan melihat darah atau melihat raut wajah mayat, film Dunkirk tergolong masih aman untuk ditonton. Karena gue sadar, bukanlah pertempuran dan kekerasan yang menjadi inti utama di film ini, melainkan evakuasi. Evakuasi inilah yang menjadi kunci utama serta inti cerita yang ingin disampaikan Nolan kepada penonton. Ya, evakuasi tentara Inggris yang kalah di medan perang dan berharap ingin segera pulang ke rumah, lalu saat pulang pun mereka masih diserang habis-habisan oleh pihak musuh.



Semua orang pun tahu bahwa dalam Perang Dunia baik I atau II, Inggris bersama dengan Prancis dan beberapa negara lainnya berseteru dengan Jerman. Namun di film ini, tidak ada atribut atau hal-hal lainnya yang menonjolkan bahwa musuh yang menyerang tentara Inggris adalah Jerman. Justru, dengan kejeniusan Nolan, karateristik musuh hanya diekspos melalui munculnya pesawat tempur yang siap meledakkan kapal serta manusia-manusia yang menumpang di dalamnya serta suara tembakan yang menyerang Tommy dan tentara lainnya. Nama Jerman dalam film ini pun disamarkan dengan istilah “enemy” atau musuh, dalam subtitle Indonesia-nya. Jerman hanya disebut sekali saja, itupun kala si tentara AU dari pihak musuh memberitahukan para warga sipil bahwa ada kapal milik Jerman. Itu saja.



Di paruh awal hingga pertengahan film, jarang sekali para tokoh tentara melakukan dialog verbal. Mereka hanya menggunakan gestur tubuh dan wajah untuk merepresentasikan ketakutan, kecemasan, dan harapan agar mereka selamat dan pulang ke kampung halaman. Mereka tiarap dan menundukkan kepala ketika bom berjatuhan dan tembakan dilontarkan. Sembunyi dari dalam dek kapal pun bukan berarti mereka selamat, justru mereka malah makin terancam dan kemungkinan mereka mati karena ledakan bom dari musuh pun semakin besar. Salah satu cara agar bertahan hidup adalah berenang dan mengapung di antara lautan luas dengan berbekal pelampung. Disinilah sisi psikologis dan humanis yang dapat diambil di film ini, bahwa sebesar apapun perang tersebut dan sekeras apapun mental sang tentara, pasti ada masa di mana mereka berada dalam kondisi tertekan secara psikologis dan tak mampu lagi menghadapi segala situasi di sekitarnya, pada akhirnya menimbulkan rasa takut yang luar biasa dan hasrat ingin meninggalkan medan perang. Seperti si tentara AU dari pihak musuh yang selalu merunduk ketakutan setelah dievakuasi dan tidak mau diajak bicara, Tommy yang menutup telinganya di dalam laut ketika ledakan bom jatuh di kapal yang sebelumnya ia tumpangi, Gibson yang bungkam dan menjauh pada tentara Inggris karena ia merupakan tentara Prancis yang juga ingin pergi ke Inggris, bahkan ketika sang Commander Bolton mengatakan “home” sambil meneteskan air mata karena rindu dengan kampung halaman. Ini bisa dibuktikan bahwa perang bisa menimbulkan rasa depresi dan trauma yang besar bagi siapapun yang terlibat di dalamnya, termasuk tentara yang mempunyai mental baja sekalipun.



Dan gue masih berpikir bila nasib Tommy, Alex, Gibson, si tentara AU dan tentara-tentara lainnya yang terlibat Battle of Dunkirk bakal mengalami gangguan kejiwaan bernama Post-Traumatic Stress Disorder yang sama seperti yang dialami John Watson dalam serial TV Sherlock. Mungkin Dunkirk bisa dibuat sekuel dan menceritakan kehidupan para tentara setelah Dunkirk, in which itu antara penting atau waste of money lah ya :P Tapi entahlah, gue merasa suka penasaran terhadap kehidupan tentara Perang Dunia pasca mengikuti perang dan pulang kampung dengan tanpa senjata serta memori-memori kelam yang masih diingat.

Oh iya, last but not least, Harry Styles is not so bad. Awalnya gue sangat meragukan kapabilitas sosok Harry Styles bermain film, apalagi berperan sebagai tentara. Yaaa kalian tentu tahu betul record-nya di One Direction itu, dengan stereotype boyband yang terkesan menyeh-menyeh. Namun, ia cukup capable kok untuk memerankan tokoh tentara bernama Alex dengan aksen Inggris yang sangat kental itu. Harry Styles di Dunkirk sangat mengingatkan gue dengan Rihanna, walaupun gayanya terlihat aduhai ternyata masih bisa berakting sangat maskulin di film Battleship. And yeah, jangan lupakan Fionn Whitehead si newcomer itu. Walaupun sebenarnya tampang wajahnya bagi gue terlalu cute sebagai tentara dan lebih cocok bermain sebagai warga sipil, ia bisa memerankan sosok Tommy.



Gue sangat mengapresiasi film Dunkirk dengan memberikan rating 8/10 karena kemampuan sound effect yang bikin gue kaget hingga ingin berkata kasar serta ramuan plot cerita perang dengan sisi humanis yang luar biasa dan gak biasa dari film perang lainnya. Dunkirk sukses bikin orang yang gak suka film perang, malah dibuat jatuh cinta. Dan kalaupun nanti Dunkirk masuk ke dalam nominasi penghargaan Oscar, gue sangat mendukung untuk masuk kategori Best Music. Gue sangat menantikan itu, pasti!



Jumat, 19 Mei 2017

Info Lowongan Kerja dari Broadcast Message Grup: Sebuah Fenomena




Satu bulan yang lalu, gue bekerja sebagai crew dalam sebuah event besar di kawasan pinggiran Jakarta. Bagi yang ngeh betul event ini seperti apa, orang-orang yang bekerja dalam kesuksesan event tersebut jumlahnya banyak, malah bisa dibilang banyak banget. Dan untuk memudahkan komunikasi antar crew dalam urusan tetek-bengek teknis, masalah kontrak kerja, hingga segala hal-hal sepele kayak janjian berangkat bareng naik KRL, beberapa crew yang berbaik hati membuat chat grup di salah satu Instant Messaging bernama LINE. Anggotanya pun tak tanggung-tanggung, hampir mencapai 500 orang. Well, Whatsapp aja pun cuman bisa nampung hingga 256 anggota doang, lho.

Setelah event ini selesai, mereka-mereka yang gabung dalam grup LINE bermember ratusan pun udah gak pernah ngomongin antek-antek teknis event lagi. Obrolan yang ada dalam grup udah bertema random; candaan sesama anggota grup, promosi barang ini itu, hingga yang menjadi sorotan gue akhir-akhir ini: lowongan kerja.

Kayak gini deh lowongannya. Mau jadi SPG rokok gak?

Atau ini deh. Driver. PC aja langsung ke orangnya.

Mendadak, grup LINE sisa event tersebut berubah haluan pembicaraan menjadi info bursa kerja. Tiap hari, pasti ada 5 hingga 10 orang yang berbagi info lowongan kerja. Bermacam-macam lowongan kerja pun bermunculan: mulai dari magang Public Relation dan Desain Grafis, Part-time Barista atau Shopkeeper, bahkan sampe SPG rokok sekalipun. Bagi orang-orang yang memiliki satu fokus mengejar karier di satu bidang atau hanya ingin berinteraksi dengan para member dalam durasi event berlangsung saja, mungkin informasi ini sangat mengganggu ketentraman serta kedamaian dalam chat LINE di ponselnya sehingga mereka harus meninggalkan chat grup. Namun, bagi para jobseeker yang mau bekerja apa saja demi materi, informasi ini tentu sangat berguna sekali.
Sejujurnya, gue tidak sekali ini saja mendapat grup ‘bursa kerja dadakan’ ini. Pernah beberapa tahun lalu gue bergabung sebagai volunteer crew di sebuah event yang diadakan sebuah penerbit ternama. Awalnya, kita semua ngobrolin masalah teknis acara melalui komunikasi lewat grup WhatsApp. Setelah event tersebut berakhir, ‘nyawa’ dalam grup tersebut sudah gak ada lagi. Sepi, kayak kuburan. Salah satu hal yang bisa menyelamatkan grup tersebut cuman satu: informasi lowongan kerja. Beruntunglah, ada satu anggota grup yang berbaik hati memberikan info tersebut, dengan berbagai alasan. Mulai dari bantu share info dari teman, hingga nyari teman buat join dalam kerjaan tersebut.

Grup yang baru aja gue omongin. Nih!

Nah, dari dua kasus yang gue dapat ini, seakan-akan gue menemukan fenomena yang lazim dilakukan oleh para generasi milenial: broadcast message lowongan kerja. Sebuah fenomena unik yang menarik untuk dikulik lebih lanjut, serta melihat hal ini dari pro dan kontra.
Mungkin bagi para generasi sebelum milenial, mencari pekerjaan adalah sebuah perjuangan berat. Bener gak sih? Apalagi untuk orang-orang yang belum atau tidak memiliki relasi yang luas. Mereka kadang datang door-to-door ke berbagai kantor untuk bertanya pada staf di sana apakah ada info lowongan kerja. Atau mungkin mereka bergegas bangun pagi dan menunggu abang loper koran keliling hanya untuk mencari info lowongan pekerjaan yang biasanya masuk dalam rubrik iklan. Bahkan, saat gue masih kecil dan masih mengawang-ngawang soal cita-cita dan masa depan, pernah ada program televisi yang khusus menayangkan info lowongan pekerjaan. Ini seriusan, gak bohong. Program tersebut biasa ditayangkan sebelum waktu subuh.
Sebelum akses internet merajai kehidupan manusia, lowongan pekerjaan yang dipublikasikan jumlahnya sangat terbatas. Para jobseekers harus ‘menjemput bola’ terlebih dahulu untuk mendapatkan info tersebut. Sekarang? Cuman duduk cantik atau tiduran saja, kita udah bisa dapat info tersebut melalui broadcast message di grup, poster lowongan kerja dari beberapa akun sosial media, bahkan dari website khusus penyedia lowongan kerja. Gak perlu capek-capek keliling kantor atau bangun pagi demi nunggu abang loper koran. Everything’s easy nowadays.
Sebagai generasi milenial yang akan menjajaki dunia kerja, kegiatan mendapatkan info pekerjaan dari chat grup adalah hal wajib yang harus dilakukan setiap hari, agar tidak ketinggalan info sedikitpun atau kesempatan kerja kita diambil orang lain dalam waktu semenit aja. Gak melulu di grup saja, banyak akun career hub di sosial media yang dengan berbaik hati memberikan info tersebut. KampusUpdate, StudentJob, Magangid, hingga RajanyaEvent adalah akun favorit para pencari kerja dengan informasi yang sangat valid. Bahkan sangat gue rekomendasikan untuk kalian yang akan berkecimpung di dunia kerja. Nah, biasanya dari informasi yang berasal dari akun-akun inilah diteruskan oleh satu-dua orang lalu disebar di berbagai chat grup. Bagi para anggota grup penerima info lowongan kerja, mereka-mereka para penyebar broadcast message lowongan kerja adalah ‘malaikat’ penyelamat hidup dari pengangguran.
Sama seperti berita-berita politik yang menyajikan informasi palsu, lowongan kerja berbasis broadcast message pun juga sarat dengan informasi hoax. Ada beberapa broadcast yang tidak menyertakan contact person serta alamat e-mail yang jelas untuk mengirimkan Curriculum Vitae, ada juga yang tidak mencantumkan nama perusahaan serta penjelasan sedikit mengenai perusahaan tersebut. Banyak, banyak banget malah. Sayangnya, kebanyakan dari kita justru gak pernah kroscek terlebih dahulu apakah info tersebut benar atau tidak. Karena masalah kepepet pengen kerja serta butuh asupan saldo debet di ATM, mereka langsung caw 'n cuss ke kantor tersebut atau langsung kirim Curriculum Vitae lewat alamat e-mail tanpa konfirmasi info terhadap pihak yang menyebarkan. Hal ini jelas harus dihindari banget, karena info lowongan kerja yang gak jelas berpotensi besar melakukan penipuan. Yang ada (dan justru hal yang paling gue takutin) justru data diri kita dalam Curriculum Vitae disalahgunakan untuk hal-hal yang gak benar, seperti meminta uang melalui nomor telepon hingga mengirimkan spam e-mail berisi promosi barang dan jasa serta beberapa link yang menjurus pada penyebaran virus komputer. Pada akhirnya, yang rugi memang kita sendiri. Mungkin gue akan memberikan tips menangkal info lowongan pekerjaan palsu di broadcast message. Mungkin nanti, gak sekarang.
Bukan berarti gue tidak mendukung sama sekali soal fenomena ini. Tidak. Justru gue sangat berterima kasih banyak kepada para informan lowongan kerja yang dengan sukarela membagikan info lowongan kerja di chat grup biarpun mereka dikritik oleh anggota chat grup lainnya gara-gara selalu kasih lowongan pekerjaan hanya di satu bidang tertentu saja. Setidaknya, informasi inilah yang cukup membantu pemerintah dalam menanggulangi masalah pengangguran. Justru informasi inilah yang membuat gue sadar betapa luas dan besar link atau relasi yang gue punya saat ini, walaupun secara intensitas gue dan para member grup tersebut tidak memiliki intensitas komunikasi face-to-face yang sering. Sekali lagi, mereka adalah ‘malaikat’ penyelamat hidup dari pengangguran. Gak cuman gue aja yang setuju soal hal ini, salah seorang teman juga memiliki pendapat serupa. Selama info tersebut benar-benar valid, dia akan menerima tawaran pekerjaan tersebut.
Pernah gue diketawain oleh satu-dua temen sekelas di kampus gara-gara gue menanyakan hal ini pada dosen di salah satu matkul yang pas itu membahas soal lowongan kerja. Yang gue pikirkan saat itu adalah, temen sekelas gue ini ketawa ngakak karena dia pikir informasi pekerjaan lewat broadcast message adalah informasi ‘sampah’ yang tergolong aneh, kampungan, gak banget, bahkan bisa dianggap “lo mager banget sih cari kerjaan sampe harus dapet info BC-an gitu.” Well, temen gue ini mungkin gak tahu, pura-pura gak tahu (atau emang dia gak punya relasi banyak) kalau informasi tersebut sudah menjadi viral bagi pengguna smartphone di zaman sekarang. Dia mungkin berpikir informasi melalui koran dan word-to-word dari teman adalah informasi lowongan kerja tervalid yang ia dapat. Padahal, dia gak tahu kalau informasi seperti ini tergolong paling up-to-date dan paling banyak kesebar, dan (mungkin) kesempatan untuk diterima kerja juga besar.
Pada akhirnya, kita sendiri sih yang menentukan apakah mau ambil pekerjaan dari informasi broadcast message atau tidak, tergantung pendapat masing-masing. Tulisan gue tidak membentuk sebuah frame atau mindset bahwa info broadcast message lowongan kerja sangat direkomendasikan, justru tulisan ini membuka mata kalian bahwa fenomena ini jelas ada, bahkan sudah menjadi bagian dari keseharian kita dalam kurun waktu beberapa tahun belakangan semenjak Instant Messaging menjadi media komunikasi yang paling sering digunakan masyarakat kekinian. Mau peduli apa tidak dengan info itu sih urusan kalian masing-masing.
Akhir kata, sebagai jobseekers yang baik dengan pengetahuan yang tentunya luas, kalian seharusnya bijak dan pandai pandai memilih informasi lowongan kerja dari media manapun. Gak peduli dari broadcast message grup Whatsapp/LINE, iklan di koran, ataupun info mulut ke mulut. Selama informasi lowongan itu berasal dari pihak yang sudah dipercaya dan dengan informasi yang sangat valid, toh kalian pasti dapat pekerjaan yang diinginkan.
Selamat mencari kerja!

Rabu, 01 Februari 2017

Karena Jadi Mahasiswa Sastra Itu, Menyenangkan!


Salah Satu Quote Terbaik dari Seorang Helen Keller.
Sumber: Tumblr


Tiga tahun yang lalu, gue mungkin merasa kecil hati dan sebel dengan omongan orang-orang ketika gue memutuskan untuk ambil jurusan Sastra Inggris setelah menempuh tiga tahun di Sekolah Kejuruan itu. Mereka kebanyakan berkata “Loh kenapa masuk jurusan Sastra Inggris? Prospek kamu ke depannya apa?” Atau mungkin begini “Yah, masa sekolah kamu Perkantoran terus kuliahnya yang Bahasa Inggris? Kan gak nyambung.” Dan bisa aja lebih menyakitkan seperti, “Kuliah di jurusan itu mau jadi apa? Guru?” Hiks, sedih deh.

Hal seperti ini gak cuma dirasakan gue pribadi, tetapi ribuan mahasiswa Sastra (jurusan Sastra gak cuman Sastra Inggris aja, ada Sastra Indonesia, Sastra Jepang, Sastra Prancis, dll) di luar sana juga merasakan hal yang sama. Ada yang keyakinan kuliah di Sastra-nya goyah dari awal semester, ada juga yang mesti berhenti di tengah jalan karena merasa tidak mendapat passion yang bagus atau nilainya selama beberapa semester buruk banget. Namun, banyak juga mahasiswa Sastra yang bertahan sampai tingkat akhir dan lulus wisuda. Porsinya justru lebih banyak ketimbang mahasiswa-mahasiswa yang gugur di medan perang akademik.

Bagi beberapa orang di luar sana dengan perspektif konservatif, kuliah Sastra tak ada artinya sama sekali. Namun bagi gue pribadi, selama tiga setengah tahun menjalankan perkuliahan, gue merasa bersyukur bisa merasakan hal-hal yang luar biasa yang gak bisa dinikmati oleh mahasiswa jurusan lainnya. Bukan bermaksud sombong, tapi ingin membuktikan pada kritikus pembanding jurusan kuliah di luar sana bahwa banyak hal yang dilakukan mahasiswa Sastra di kampus, dan semuanya tentunya punya nilai tersendiri yang jelas berbeda dengan anak-anak jurusan lainnya.

Kuliah di jurusan Sastra tak melulu belajar soal bahasa dan antek-antek grammar ala lembaga kursus. Banyak hal lain yang dipelajari di sini. Dan hal-hal inilah yang patutnya disyukuri kalian para mahasiswa Sastra di manapun kalian berada saat ini.



1. No Math, No Worries. Because...


Karena hampir semua anak Sastra benci Matematika. Iya gak?
Sumber: Tumblr 

Mahasiswa Sastra bersyukur banget karena selama empat tahun kuliah, tidak ada satu mata kuliah (matkul) pun yang berhubungan dengan angka, rumus, dan hitung-hitungan. Lihat saja jadwal matkul anak sastra dari semester satu sampe delapan, ada gak matkul semacam “Matematika 1” atau “Statistika”? Gak ada kan? Jelas banget. Hal ini bisa dimaklumi karena mostly belajarnya anak Sastra itu lebih menjurus pada kata dan kalimat ketimbang angka, dan juga skripsi mahasiswa sastra kebanyakan menggunakan metode kualitatif sehingga gak perlu belajar matkul hitung-hitungan.

Makanya tampang mahasiswa Sastra kebanyakan lebih segar dan gak kaku karena hidup mereka santai tanpa ribet hapalin rumus ini itu dan gak pusing kalau hitungannya salah. Selain itu, buat para haters pelajaran Matematika pas sekolah dulu, jurusan ini tepat jadi tempat pelarian dari urusan angka-angka. Gue mungkin adalah salah satunya, hehehehe.


2. Update Film atau Novel baru? Mahasiswa Sastra Emang Juara Banget!


Saking update-nya, bacaannya numpuk begini. Eh kenyataannya gini juga ga sih? :))
Sumber: Tumblr

Mahasiswa Sastra paling update banget soal urusan film atau buku keluaran baru. Bahkan karya sastra jadul pun mereka tahu. Karena obrolan sehari-hari di jam kelas berhubungan dengan karya sastra, anak sastra dituntut untuk “tahu banget” karya-karya keluaran baru. Mereka tahu betul kapan film nominasi Oscar kayak La La Land ditayangin di Indonesia, atau spoiler cerita di episode terbaru series Sherlock, atau juga iseng ngecek kapan pengarang buku terkenal kayak J.K. Rowling dan Dan Brown publish buku terbaru lagi.

Tujuan mereka untuk cari karya sastra keluaran baru bukan hanya untuk pengetahuan semata aja, tapi juga sekalian hunting bahan untuk skripsi. Maklum aja, skripsi-nya mahasiswa Sastra harus menggunakan karya sastra keluaran terbaru, at least keluaran 2010-an ke atas. Kebijakan di kampus gue memang seperti itu, walaupun gak menutup kemungkinan untuk pakai karya sastra keluaran lama. Selain itu, mereka harus mengenal pula beberapa karya jadul yang dianggap klasik (atau bahasa kerennya sih canon), salah satunya sih karyanya William Shakespeare. Waaah, kalo Shakespeare sih udah pasti karyanya wajib dibaca anak Sastra, sih. Apalagi anak Sastra Inggris macem gue, Mwehehe, mantap jiwa yekan anak Sastra?

3. Mahasiswa Sastra itu Pemikirannya Kritis Banget

Yaaa gitu deh, dikit-dikit komen, dikit-dikit kritik.
Sumber: Tumblr

Di jurusan sastra, kerjaan mahasiswanya gak cuman baca-nonton-baca-nonton doang. Tapi mereka dituntut untuk bisa analisis dan kritik karya sastra tersebut. Kritiknya bisa dari penokohan, jalan cerita, atau bisa juga dari sinematografi serta unsur-unsur lainnya seperti sejarah hingga biografi si pengarang. Mostly sih anak sastra bakal lebih seneng kritik hal yang kira-kira “gak sreg” sama apa yang mereka perhatikan. Misalkan, jalan cerita dari novel A janggal karena si tokohnya marah-marah sendiri di tempat ramai tapi gak ada satupun yang respon. Atau juga penggunaan sinematografi di film thriller berjudul B di mana sutradaranya berani menggunakan warna-warni ala pelangi, padahal film thriller kebanyakan bertema gelap dan terlihat lebih suram.

Anak sastra juga dituntut lebih peka terhadap hal detil yang ada dalam karya sastra sehingga kebanyakan anak sastra punya kepekaan yang tinggi terhadap sesuatu juga. Tiati dah kalo mau bikin kode sama anak sastra (Ihiiiiy). Oh iya, kuliah di jurusan Sastra cocok banget untuk kalian yang hobi banget kritikin orang dari berbagai macam perspektif, karena di sinilah Sastra adalah wadah yang tepat untuk para kritikus muda yang berkarya. Ahseeek!

4. Anak Sastra pun juga belajar Psikologi, Sosiologi, dan Filsafat. Sigmund Freud, Karl Marx, Virginia Woolf, kenal banget!

Belajar Psikoanalisis-nya Freud cuman paham yang ini doang. Maafkan daku :(
Sumber: Pinterest

So, siapa bilang belajar Sastra melulu soal bahasa aja? Salah banget! Justru di sinilah, Sastra menjadi suatu kajian yang sangaaaaat luas. Saking luasnya, Sastra bisa dikaitkan dengan kajian di bidang apapun, seperti budaya, sosial, filsafat, sejarah, psikologi, bahkan politik dan ekonomi pun bisa masuk loh!

Dari segi budaya, tentunya anak Sastra bakal dijejelin kajian Multikulturalisme atau Antropologi Sastra. Dari segi psikologi, anak Sastra paham betul sama urusan Psikoanalisis dan sang sesepuh (sesepuh!) bernama Sigmund Freud yang menjadi kebanggaan mahasiswa Psikologi. Atau dari segi sosial, mahasiswa Sastra diajarkan Feminisme dan hubungannya dengan dunia literatur. Nah, dari teori-teori kajian yang disebutkan ini pada akhirnya bakal dihubungkan dan dianalisis dengan karya sastra yang ada.

Pastinya, untuk menganalisis karya sastra dan menghubungkannya dengan kajian yang gue sebutin tadi, prosesnya gak bisa sembarangan loh. Butuh waktu yang lama untuk memahami kajiannya dan juga proses penulisan analisisnya. Itulah hal tersulit yang dialami anak Sastra kebanyakan, yang stress tiap hari mikirin teori yang cocok untuk analisis satu karya sastra. Apalagi skripsi anak Sastra hampir semuanya bakal kayak gini. But after all, analisis sastra dengan model kayak gini lebih seru dan lebih menantang loh!

5. Mahasiswa Sastra itu, Kreatif!

Kreativitas itu layaknya air, harus mengalir dan jalan terus...
Sumber: Tumblr

Walaupun mahasiswa Sastra lumayan stress jika berurusan dengan tugas analisis dan kritik, namun kalo tugas kuliahnya bikin suatu karya, anak Sastra emang juara banget! Malah justru, semangat mereka untuk buat karya lebih tinggi ketimbang membuat suatu paper analisis. Alasannya sih simple banget. Pertama, membuat karya sastra itu butuh imajinasi tingkat tinggi dan semuanya mengalir dari dalam pikiran si penulis. Otomatis, mereka-mereka yang menulis karya sastra akan lebih mudah mengerjakannya ketimbang menulis paper analisis berlembar-lembar yang butuh pemikiran yang super kritis. Kedua, sastra itu sifatnya bebas. Tentunya, dari prinsip kebebasan inilah, mahasiswa bisa menggunakan apapun yang ia punya untuk mengekspresikan pikirannya ke dalam tulisan. Dan pada akhirnya, kebebasan menghasilkan sebuah kreativitas.

Salah satu tugas yang pernah gue kerjakan saat itu adalah gue bikin sebuah concrete poem. Bagi kalian yang belum familiar dengan istilah ini, concrete poem adalah sebuah puisi yang dibentuk secara bebas dan memiliki desain tersendiri. Kalian bisa menemukan puisi berbentuk bunga, matahari, bahkan pola yang gue bikin di bawah ini.

Sebatas puisi receh yang menyiratkan lelahnya kuliah. Btw, bacanya mulai dari mana, nih?
Sumber: Pribadi


6. UAS-nya Mahasiswa Sastra? Main Drama!    

Seonggok gambar dari tugas drama kemaren. Kok keliatannya thriller banget, ya?
Sumber: Pribadi

Masih berhubungan dengan poin nomor lima, yaitu kreativitas. Beberapa mahasiswa Sastra dari berbagai kampus pastinya dituntut untuk membuat suatu karya sastra, baik berupa prosa, puisi, bahkan drama sekalipun. Dan buat gue, drama adalah tugas kampus yang paling sering dilakukan mahasiswa Sastra. Entah itu untuk tugas formatif, tugas UTS, atau tugas UAS. Yang penting tugasnya pentasin karya drama!

Drama yang ditampilkan bisa berupa drama dengan teks yang memang original buatan mahasiswa, atau juga teks adaptasi dari naskah drama sebelumnya. Kebanyakan sih mahasiswa Sastra cenderung bikin naskah adaptasi karena struktur cerita dan karakterisasi tokohnya sudah tergambar jelas di teks sebelumnya. Mahasiswa hanya mengubah beberapa bagian saja dari naskah tersebut, baik itu dari segi budaya, tutur bahasa, nama tokoh, bahkan ada yang sampai mengubah akhir cerita. Apapun yang diubah, pastinya teks adaptasi tentunya harus memiliki benang merah yang sesuai dengan teks sebelumnya.

Dan beberapa waktu yang lalu, gue ditugaskan sebagai penulis naskah untuk salah satu drama adaptasi karya Henrik Ibsen berjudul “A Doll’s House.” FYI, “A Doll’s House” merupakan teks drama klasik asal Swedia yang katanya cukup kontroversial di zamannya (kurang lebih sekitar abad ke-19) karena mengangkat isu perempuan di dalamnya. Tugas gue sebagai penulis naskah di sini adalah mengubah budaya Swedia yang ada dalam “A Doll’s House” menjadi budaya multikultural Jakarta. Tentunya dengan pergeseran budaya ini, gue harus mengubah tutur kata, penamaan tokoh, dan lain-lain. Karena “A Doll’s House” ceritanya sangat serius dan membosankan, gue dengan usaha semaksimal mungkin mengubah beberapa cerita menjadi lucu dan menghibur, namun tetap memberikan nuansa yang mencekam di akhir cerita (yaaah spoiler deh). Mungkin kalau gue ada waktu, gue bakal menulis artikel khusus tugas drama yang satu ini. Pokoknya, mementaskan drama itu seru banget! Selain seru, pementasan drama ini juga menjadi pengalaman tersendiri buat mahasiswa Sastra dalam organize kegiatan yang berhubungan dengan sastra. Intinya sih seru banget!!

Mungkin ini adalah sedikit dari ribuan alasan kenapa gue bersyukur banget masuk jurusan Sastra. Bukan tujuan promosi jurusan karena tulisan gue gak dibayar pihak kampus, bukan itu. Walaupun tulisan gue memang ala kadarnya dan tidak mengandung kalimat-kalimat puitis khas penulis sastra tingkat dewa, setidaknya ini mampu menjadikan reminder bagi kalian yang lagi desperate banget untuk lanjut kuliah Sastra, atau yang lagi butuh suntikan semangat sebelum memasuki semester baru mulai, atau juga sebagai nostalgia masa-masa kuliah dulu.

Pokoknya, long life mahasiswa Sastra!





@TikaAuliaaa