My World Cup Review
Wow, it’s been more than two weeks
since the World Cup final in Maracana! Masih terbayang di pikiran gue ketika
kesebelasan timnas Jerman bertarung melawan tim yang pernah mereka kalahin di
Final Piala Dunia 24 tahun yang lalu : Argentina. Gue masih ngakak kalo inget
selebrasi super lebaynya Higuain saat menjebol gawang Neuer tapi ternyata
offside, peristiwa “headbutting” Neuer ke Higuain yang nyaris bikin pemain
Napoli itu cedera parah, cedera Kramer yang bikin doi gegar otak dan bikin
wasit panik ketika doi tanya “is this World Cup Final?”, ketika pipi
Schweisteiger dicakar oleh salah seorang pemain Argentina dan buat pipi kanannya
berlumuran darah, dan akhirnya ketika si pemain pengganti bernama Mario Gotze
mengoyak hati para pemain dan fans Argentina dengan gol dari sisi kirinya.
Sebagai fans sepakbola yang pro dengan Argentina di malam itu, gue makin sedih dan
gak tega ketika kamera merekam Di Maria menangis melihat selebrasi Jerman. I
don’t know exactly how he felt, tapi gue bisa menebak rasa sedih dan sesal tak
bisa bermain karena cedera itu bercampur jadi satu. Dan malam itu, di Maracana,
sepakbola mengajarkan kita bahwa sepakbola bukan hanya sekedar permainan. Tapi
itu lebih dari sekedar rasa, cinta, dan harga diri.