My World Cup Review

Selasa, 29 Juli 2014

My World Cup Review




Wow, it’s been more than two weeks since the World Cup final in Maracana! Masih terbayang di pikiran gue ketika kesebelasan timnas Jerman bertarung melawan tim yang pernah mereka kalahin di Final Piala Dunia 24 tahun yang lalu : Argentina. Gue masih ngakak kalo inget selebrasi super lebaynya Higuain saat menjebol gawang Neuer tapi ternyata offside, peristiwa “headbutting” Neuer ke Higuain yang nyaris bikin pemain Napoli itu cedera parah, cedera Kramer yang bikin doi gegar otak dan bikin wasit panik ketika doi tanya “is this World Cup Final?”, ketika pipi Schweisteiger dicakar oleh salah seorang pemain Argentina dan buat pipi kanannya berlumuran darah, dan akhirnya ketika si pemain pengganti bernama Mario Gotze mengoyak hati para pemain dan fans Argentina dengan gol dari sisi kirinya. Sebagai fans sepakbola yang pro dengan Argentina di malam itu, gue makin sedih dan gak tega ketika kamera merekam Di Maria menangis melihat selebrasi Jerman. I don’t know exactly how he felt, tapi gue bisa menebak rasa sedih dan sesal tak bisa bermain karena cedera itu bercampur jadi satu. Dan malam itu, di Maracana, sepakbola mengajarkan kita bahwa sepakbola bukan hanya sekedar permainan. Tapi itu lebih dari sekedar rasa, cinta, dan harga diri.

Dan euforia Piala Dunia itu, baru saja berakhir 10 hari yang lalu.




Gue akui, Piala Dunia tahun ini sungguh berbeda dari Piala Dunia sebelumnya. Baik diliat dari personal, teknologi, maupun kehidupan sosial. Dari segi personal gue sendiri, ini adalah Piala Dunia yang perkembangannya selalu gue ikuti dibanding tahun sebelumnya. Baik sebelum pembukaan, saat pertandingan berlangsung, sampai ketika Piala Dunia resmi ditutup. Dari segi teknologi, Piala Dunia tahun ini menerapkan teknologi garis gawang dan vanishing spray yang menarik perhatian gue. Gak hanya ”spray” nya yang mirip krim pembersih kaset CD, tapi juga bisa menghilang di rumput hijau dalam waktu semenit saja. Dari segi sosial, banyak orang yang makin gila dengan sepakbola. Dan mereka bisa mengekspresikan kegilaan mereka lewat social media ataupun instant messaging. Twitter sangat menyadari kegilaan usernya terhadap sepakbola, sehingga Twitter dengan baik hati bikin hashflag dan jadwal pertandingan beserta hasilnya.



Gimana dengan pertandingannya? Piala Dunia tahun ini banyak menyajikan kejutan yang bikin mata fans seantero bumi terbelalak untuk beberapa detik. Masih inget ketika Spanyol mesti takluk 1-5 dari Belanda dan 0-3 dari Chile sehingga jadi tim pertama yang tersingkir, padahal Spanyol adalah juara dunia 4 tahun silam. Masih inget juga ketika kita melihat klasemen  Grup D dan kaget ternyata juara grupnya bukan salah satu diantara tim besar bernama Inggris, Italia, ataupun Uruguay, tapi tim underdog yang sering kena bully fans di twitter gara-gara berada di “Group of Death” : Kosta Rika. Dan masih teringat juga ketika semifinal antara Brazil kontra Jerman. Gue kira dengan status “tuan rumah”, Brazil bakal ngalahin Jerman dan lolos ke final. Sial, mereka justru dibantai 1-7. Seketika itu juga, Brazil berduka. Masyarakatnya begitu sedih ketika timnya gagal dapet trofi emas untuk kedua kalinya di tanah sendiri. Bahkan salah satu foto yang menurut gue paling “touchable” adalah ketika seorang kakek yang memeluk erat replika trofi Piala Dunia bagaikan kakek menggendong cucunya dengan muka sedih, seakan-akan  trofi itu tidak boleh diambil dari genggamannya. Dan pada akhirnya, dengan ketulusan hatinya, si kakek ini memberikan replika trofi itu ke salah satu gadis fans timnas Jerman dan berkata “You deserve it”.



Selain kejutan yang tercipta di setiap pertandingan, banyak juga moment-moment lucu dan gak terlupakan yang berhasil direkam kamera dan sukses bikin para kreator kartun meme punya banyak ide buat posting gambar di Twitter. Beberapa yang sukses bikin gue gak berhenti ngakak adalah ekspresi mukanya defender Belanda, Martins Indi, pas lagi merhatiin Diego Costa. Atau juga pas Suarez lagi gigit pundaknya Chiellini dan kreator kartun meme sukses “mendramatisir” luka di pundak Chiellini bagaikan digigit vampir. Atau kejadian pas pelatih Argentina, Sabella, frustrasi sampe nyungsep ke belakang gara-gara liat gol Higuain kena tiang. Atau juga gaya “cool” nya kiper Belanda, Cillessen, pas nongkrong di tiang gawang. Atau mungkin pas serangga bernama belalang nongol di pundak si “Golden Boot” James Rodriguez pas ngerayain selebrasi golnya. Tapi satu yang terbaik adalah golnya van Persie ke gawang Spanyol. Coba liat, siapa yang bisa niru diving ala lumba-lumba lalu nyundul ke arah gawang dengan tepat? That’s why people call this “Persieing”.



Banyak juga pemain yang mendadak bersinar di Piala Dunia gara-gara main bagus. Padahal sebelumnya mereka cuman pemain biasa yang gak pernah dapet sorotan media maupun fans. Andai aja Brazil bisa nyetak gol banyak ke gawang Meksiko, pasti kita bakal nge-bully si kiper Meksiko berjari enam bernama Guillermo Ochoa. Coba aja kemaren Falcao sembuh dari cederanya dan bisa membela timnas Kolombia, bisa jadi Golden Boot bukan milik pemain baru Real Madrid, James Rodriguez. Dan Kosta Rika gak bakal bisa bertahan sampe perempat final kalo seandainya sang pelatih gak memainkan Keylor Navas. Dan juga kalo seandainya Belanda yang kalah telak dari Spanyol, fans Belanda pasti bakal nyalahin pemain belakang yang diisi pemain muda kayak Stefan de Vrij, Daley Blind, Daryl Janmaat, ataupun Martins Indi yang kesemuanya sekarang jadi inceran tim-tim besar.



Di postingan gue sebelumnya, gue pernah nulis tim-tim jagoan gue di Piala Dunia. Argentina, Belanda, sama Belgia. Overall, gue begitu impressed dengan penampilan ketiga tim ini. Pertama, karena di fase grup mereka menjadi juara grup. Kedua, selama fase grup mereka mendapat poin sempurna – 9 – dan menjadi 3 dari 4 tim yang menyapu bersih kemenangan di fase grup. Ketiga, mereka bisa lolos fase knock out, yaaaa walaupun Belgia gagal di perempat besar sih. Keempat, setelah lihat peringkat FIFA bulan ini, mereka masuk kedalam 5 besar. Argentina di peringkat 2, Belanda 3, dan Belgia 5. Sialnya buat gue adalah mereka saling “bentrok” satu sama lain di babak knock out, dimana tim satu lolos, tim lain mesti tersingkir. Rasanya campur aduk ketika liat “Golden Generation” Belgia mesti kalah dari Argentina di perempat final, dan rela lihat Belanda kalah di babak penalti dan ngelolosin Argentina ke final.

Tapi jika gue membandingkan team performance diantara ketiga tim selama Piala Dunia, Belanda yang bikin gue begitu terkesan. Walaupun van Gaal “nekat” masang pemain muda yang “lack of experience” di Piala Dunia, namun mereka bisa lolos ke babak selanjutnya hingga semifinal. Formasi 3-5-2 yang merupakan formasi baru yang van Gaal pakai pun juga buat permainan menjadi menghibur dan menarik perhatian. Dan buat gue, salah satu pencapaian “gila” Belanda di Piala Dunia bukan lolos sampe dapet peringkat 3 dengan komposisi pemain muda, tapi bagaimana para pemain muda Belanda mampu kalahkan Spanyol dengan skuad yang berpengalaman – dan juga status juara dunia 4 tahun lalu – dengan skor yang sangat mencengangkan : 5-1. Dan satu lagi, Belanda juga bikin fans Brazil kembali berduka dengan skor 3-0 nya. Ah ya, dan jangan lupakan gol “lumba-lumba” nya van Persie. It should have been goal of tournament. Sayang aja golnya James Rodriguez lebih menarik perhatian FIFA daripada golnya van Persie.



Argentina bagaimana? Argentina sih gak jelek-jelek amet lah di Piala Dunia. Dengan beberapa pemain bintang yang ada, mereka bisa lolos sampe final. Sayang, keberuntungan buat dapet status “juara dunia” lebih berpihak ke Jerman. Di beberapa pertandingan, Argentina tidak pernah menelan kekalahan, walaupun Argentina selalu menang dengan skor tipis. Pemain kebanggaan La Albiceleste, Lionel Messi, dapat penghargaan “Man of The Match” 4 kali – iya, jumlahnya sama kayak trofi bola emas pribadinya itu. Sayang aja, permainannya keliatan membosankan. Entahlah karena golnya yang kurang, atau taktiknya dibikin kayak gitu, gue bukan tactical expert yang menilai permainan Argentina secara objektif. Dan kayaknya kalo final kemaren Di Maria gak cedera, mungkin skenarionya lain lagi. Iya, Argentina yang jadi juara dunia.



Belgia sebenernya juga gak jelek-jelek amet, tapi gak bagus-bagus amet. Average. Tapi beruntung bisa lolos sampe perempat final. Dan hal unik yang dimiliki Belgia adalah gol-gol yang ada berasal dari pemain cadangan. Masih inget pas lawan Aljazair, saat itu Belgia ketinggalan 0-1. Dan di babak kedua, sang pelatih Wilmots nurunin si kribo Fellaini dan Origi dan dua-duanya nyetak gol. Kalo dibandingin tim-tim lain yang gue jelasin sebelumnya, gue selalu mengikuti perkembangan tim. Baik pas latihan, berangkat ke Brazil, latihan lagi di Brazil, sampe pertandingan berlangsung. Ya, gue mesti berterimakasih sama akun @BelRedDevils yang juga secara tidak langsung mengajarkan Bahasa Prancis dan Belanda dalam tweets nya. Ah, the last but not least, and the most favourite part of Belgian team, karena Belgia dikenal dengan “Golden Generation” nya, maka berondong-berondong yang ada di skuad Belgia terhitung lumayan. Sama persis kayak Belanda, bedanya kalo Belgia diisi sama pemain muda yang namanya udah dikenal, mungkin salah satu yang menarik perhatian adalah pemain keturunan Albania yang begitu kontroversial dengan timnas apa yang mau dia pilih. Sayang, dia cuman main di satu pertandingan saja. Itupun juga ketika Belgia lawan Korea Selatan, dimana pertandingan itu hanya semacam formalitas saja. Adnan Januzaj, itulah namanya.



The last but not least, gue menemukan banyak pemain yang cukup menarik perhatian gue. Gak cuman gaya mainnya yang bagus, tapi tampang juga oke. Baiklah, disini gue akan sedikit ber-fangirl-ing ria dengan beberapa macam pemain. Di timnas Belanda, gue begitu terkesan dengan Stefan de Vrij. Di Kolombia, gue juga terkesan dengan “the 60 million boy” bernama James Rodriguez, walaupun awalnya gue kaget sama cara pengucapan namanya. Ha-mez. Dan di timnas Jerman, gue rada “melting” ketika pemain defender inceran Manchester United itu senyum. Iyesss, Mats Hummels. Good thing is pemain-pemain yang gue sebutin tadi masuk kedalam Top XI World Cup team versi FIFA, bersama dengan 8 pemain lainnya. Ketiga pemain ini juga jadi bahan topik rumor transfer di berbagai sosial media. De Vrij yang dikabarin bakal pindah antara Lazio atau Manchester United, James yang sukses masuk jajaran pemain termahal dunia setelah resmi jadi pemain Real Madrid, dan Hummels yang kabarnya diincar Manchester United sama Barcelona ternyata “not for sale”.





Well, Piala Dunia tahun ini memang berkesan banget buat gue. Walaupun persiapan Brazil masih awur-awuran, protes sampe kerusuhan juga masih ada di Brazil selama Piala Dunia, wasit juga kebanyakan ngasih keputusan kontroversi, upacara pembukaan sama penutup yang “mengecewakan” dibanding di Afrika Selatan, tapi seenggaknya ngasih hiburan yang atraktif buat penikmat sepakbola setelah musim kompetisi selesai. Dan juga Piala Dunia jadi acara wajib yang ditonton ketika sahur. Bahkan saking serius nonton bola, gue rela makan kayak dikejar setan gara-gara waktu imsak nyaris dekat. Gue sangat merindukan turnamen ini, dan sedihnya gue mesti ketemu Piala Dunia 4 tahun lagi. Entahlah, 4 tahun lagi gue lagi ngapain. Ngurusin skripsi, kerja, atau... entahlah. Pastinya selama 4 tahun mendatang kecintaan gue terhadap sepakbola gak bakal pudar. Gak bakal.

Yang pastinya juga sih, 4 tahun lagi gue bisa liat Adnan Januzaj selalu ada di starting line up Belgia jadi pilihan utama pelatihnya. Gitu harapan gue.

Obrigado Brazil. Thanks for the joy, the dance, the boys, the joke, and all things in World Cup. See you in Russia, World Cup!



*NB : Still wondering who will be the mascot of 2018 World Cup. Masha and The Bear, maybe?*


@TikaAuliaaa

0 komentar :

Posting Komentar