Memori bersama Robin van Persie

Jumat, 17 Juli 2015

Memori bersama Robin van Persie




Sudah resmi akhirnya.

Setelah beberapa hari fans Manchester United bertanya-tanya tentang nasib pemain ini di Old Trafford di musim 2015/16, apalagi dengan munculnya beberapa foto yang menunjukkan pemain ini berada di sebuah kota di Turki dan digosipkan sedang melakukan tes medis dengan salah satu klub besar di negara tersebut, akhirnya sang Flying Dutchman, secara resmi, berseragam biru tua-kuning Fenerbahçe.

Kepindahan sang pemain ke Turki sangat disayangkan oleh para fans. Namun, ini adalah keputusan yang sangat tepat baginya. Umurnya yang tak muda lagi dan performa permainan yang mulai menurun – terutama kemampuan mencetak gol dan tentu, catatan rekor tendangan penalti yang buruk di musim lalu -  membuat sang pemain ini sadar dia tak akan bertahan lama di klub yang memberikannya satu trofi Liga Inggris itu. Turki adalah pelabuhan karir selanjutnya bagi pemain yang akan berulang tahun ke-32 tanggal 6 Agustus nanti.

Dari awal kepindahannya dari London menuju Manchester, saya sadar bahwa dia tidak akan berada di sana selama lebih dari 5 tahun. Terlebih lagi dengan performanya di musim terakhirnya bersama sang ‘Setan Merah’. Tapi, ah… tiga paragraf ini tidak cukup menggambarkan rasa sedih saya atas kepindahan si nomor 20 ke Fenerbahçe.

Ketimbang harus bersedih terus-terusan, marilah kita putar belasan memori-memori terbaik beberapa tahun lalu bersama seorang Robin van Persie, baik sebelum, saat, dan setelah berseragam Manchester United. Mungkin beberapa, bahkan semua memori itu, tak akan terlupakan bagi semua fans ‘Setan Merah’. Termasuk saya.





Kini kita berada di memori 4 tahun yang lalu, ketika Manchester United, secara mengejutkan, menghajar tim Meriam London dengan skor yang tak kalah mengejutkan pula: 8-2. Jika kalian menonton pertandingan saat itu di layar kaca, kalian bisa melihat betapa pertahanan Arsenal dikoyak habis-habisan oleh para pemain Manchester United. Dan satu hal yang membuat kita makin terkejut adalah starting lineup Manchester United kala menghajar Arsenal diisi oleh pemain yang punya  kualitas performa yang tidak sebaik skuad Manchester United di musim ini. Sebut saja mereka adalah Smalling, Cleverley, Nani, Welbeck, bahkan ada Anderson di sana, kawan! Anderson! Mereka-mereka ini aktor dibalik kemenangan 8-2 yang luar biasa itu.

Banyak kejadian yang membuat mata kita terbelalak dalam pertandingan yang digelar 28 Agustus 2011 lalu. Salah satu yang menjadi favorit saya adalah ketika seorang Robin van Persie, yang masih berseragam Arsenal, menjadi eksekutor penalti melawan klub yang akan ia bela satu tahun kemudian. Dan… van Persie akan melawan kiper rekrutan Manchester United saat itu, yang kemampuannya masih sangat diragukan fans: David de Gea. Seharusnya, van Persie sangat berpeluang besar untuk menjebol gawang Manchester United dan menyamakan kedudukan 1-1. Melawan anak bawang seperti de Gea? Ah, kecil! Namun, sialnya, nasib berkata lain.




Kesialan Arsenal tak berakhir sampai situ. Berkali-kali pemain Manchester United sukses menjebol gawang yang dikawal Szczesny hingga dirinya lupa jika timnya sukses kebobolan delapan kali. Ini merupakan salah satu kemenangan terbesar dalam sejarah Premier League dimulai.

Kesialan Arsenal pun masih berlanjut setelah kejadian mengerikan 8-2 itu. Ini terjadi hampir setahun setelah kejadian di atas.

Sudah menjadi jinx di Arsenal bahwa siapapun yang menjadi kapten di musim tersebut, mereka pasti akan pindah ke klub lain di musim berikutnya. Vieira, Henry, Fabregas, dan Vermaelen adalah contohnya. Mereka menjabat kapten di Arsenal selama satu hingga tiga musim. Kecuali Vieira, kesemua kapten tidak pernah mencicipi gelar juara liga domestik. Karena lelah dengan ‘puasa gelar’ Arsenal selama hampir sepuluh tahun, mereka mencoba mencari peruntungan baru dengan mencari klub baru, dan sukses mendapatkan gelar liga domestik di musim selanjutnya.

Robin van Persie juga menjadi aktor dalam jinx itu.





17 Agustus 2012, van Persie resmi bergabung dengan ‘Setan Merah’ dengan harga transfer sebesar £24 juta. Van Persie dengan beraninya pindah dari tim yang membesarkan namanya ke tim yang merupakan rival Arsenal di Premier League: Manchester United. Ingin menjuarai Liga Inggris adalah alasan terkuat van Persie untuk pindah. Demi bisa mewujudkan impian Manchester United untuk merebut gelar juara Liga Inggris musim 2012/13 (dan tentunya impian van Persie sendiri sejak bermain di tanah Britania Raya), van Persie menggunakan nomor punggung 20.

Jelas, fans Arsenal marah besar dengan kepindahan van Persie ke tim rival. Mereka membakar kostum Arsenal dengan nama van Persie dan nomor punggung 10 yang ia kenakan di Arsenal saat itu. Ketimbang marah-marah di forum fans, lebih baik bakar jersey saja. Begitulah kata mereka. Van Persie juga punya julukan tersendiri bagi The Gooners, mungkin sampai saat ini: traitor, atau pengkhianat dalam bahasa Indonesia.

Musim perdana van Persie bersama Manchester United terhitung sukses. Di pertengahan musim saja, van Persie mampu mencetak gol ke seluruh tim Liga Inggris, termasuk mantan timnya dan rival sekota Manchester United: Manchester City.

Pada 3 November 2012, 4 bulan selang resminya sang Flying Dutchman bergabung bersama Manchester United, van Persie mencetak satu gol kala melawan Arsenal di Old Trafford. Blunder yang dilakukan oleh mantan bek Arsenal, Thomas Vermaelen, mampu dimanfaatkan van Persie hingga akhirnya ia mencetak gol. Dan apa yang dilakukan van Persie dengan golnya tersebut?





No celebration goal for van Persie. Setidaknya, inilah yang ia lakukan setelah mencetak gol ke gawang Arsenal selama musim 2012/13. Dan setidaknya pula ia meredam emosi para fans Arsenal kala mencetak gol ke gawang sang mantan.

Sebulan berselang, Manchester United menghadapi sang rival sekota Manchester City dalam laga yang dijuluki sebagai Derby of Manchester. Pertandingan yang dilakukan pada 9 Desember 2012 di Etihad Stadium berjalan penuh dengan drama. Trauma para pemain Manchester United saat dibantai 1-6 lalu masih berasa.

Hingga pada akhirnya drama pun dimulai. Asap hasil pembakaran flare bermunculan. Gol demi gol bersahutan dalam Derby kali ini. Wayne Rooney, Yaya Toure dan Pablo Zabaleta mencetak gol dalam pertandingan ini. Hingga akhirnya, papan skor menunjukkan angka 2-2. Kemungkinan untuk menghasilkan seri dalam game ini sangat besar.

Semuanya berubah 180 derajat ketika Manchester United mendapatkan tendangan bebas. Robin van Persie mendapat kepercayaan untuk menendang free kick terakhir – dan juga bisa dikatakan tendangan terakhir – dalam pertandingan tersebut. Ketika van Persie menyentuh dan menendang bola…





Van Persie berhasil mengubah papan skor di Etihad, serta berhasil mengubah kondisi Etihad stadium sendiri. Semua fans City di derby kala itu marah besar. Mereka menyalakan flare, membuat ‘polusi udara’ selama beberapa menit, melempar benda asing dan mengenai pelipis Rio Ferdinand hingga berdarah. Tapi hal itu tidak mengurangi euforia pemain Manchester United berselebrasi di depan pendukung rival abadinya. Bahkan seorang Ferguson sekalipun berlari-larian ke pinggir lapangan sambil merayakan kemenangan tersebut. Van Persie berhasil mengembalikan harkat dan martabat Manchester United yang sebelumnya hancur karena peristiwa kekalahan memalukan 1-6 mereka di Old Trafford oleh City.

Walaupun tahun berganti, namun pesona van Persie bagi fans Manchester United belumlah hilang. Beberapa kejadian tak terlupakan masih ditorehkan van Persie bagi para fans… untuk dikenang. 



Bersambung ke Part 2

0 komentar :

Posting Komentar