Resensiku: Soccer in Sun and Shadow

Sabtu, 04 Juli 2015

Resensiku: Soccer in Sun and Shadow


Saya bukanlah orang yang ahli dalam menilai sebuah buku itu bagus atau tidak. Tapi percayalah, saat ini saya berusaha untuk menilai salah satu buku yang sedang saya baca saat ini.

Seminggu yang lalu saya browsing karya-karya literasi yang bertema sepakbola namun judul bukunya jarang didengar oleh fans sepakbola, atau istilah tepatnya anti-mainstream. Mungkin para pecinta kulit bundar selalu familiar dengan literasi bertema sepakbola dengan model biografi maupun otobiografi, sebut saja Alex Ferguson Autobiography dan I Am Zlatan yang merupakan favorit saya. Namun saat itu saya sedang bosan membaca literasi seperti itu. Hal-hal berbau karya fiksi dan analisis sepakbola berbau ilmiah yang sedang saya cari, dan pastinya konten beserta isi tulisan tidak seribet Soccernomics (jika kalian pernah membaca buku ini, pasti kalian sangat setuju dengan pernyataan ini).

Dengan beberapa kata kunci yang saya cari, sang mesin pencari mengantarkan saya pada satu situs yang akhirnya mengenalkan saya dengan salah satu karya literasi bertema sepakbola yang sama sekali belum saya dengar, namun dari judulnya cukup menarik perhatian saya untuk membaca lebih lanjut.





Soccer in Sun and Shadow, begitulah judul yang disematkan pada karya yang sedang saya cari ini. Jujur, saya belum pernah dengar atau baca judul itu sebelumnya. Dan buku ini bukanlah rekomendasi dari portal online berita sepakbola yang selalu saya kunjungi tiap hari. Ya, buku ini saya temukan begitu saja. Soccer in Sun and Shadow bukanlah karya fiksi, melainkan sebuah karya nonfiksi dimana buku ini menggambarkan hal-hal detail tentang sepakbola dari pandangan kesusateraan. Buku ini ditulis oleh seorang jurnalis sekaligus novelis Uruguay yang begitu terkenal, yaitu Eduardo Galeano. Awalnya, buku ini ditulis dalam bahasa Spanyol dengan judul El Fútbol a Sol y Sombra dan rilis pada tahun 1995. Kemudian buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Mark Fried, yang sebelumnya telah menerjemahkan karya-karya Galeano lainnya seperti Open Veins of Latin America.

Berbicara tentang Eduardo Galeano, dia adalah salah satu penulis tersukses di Amerika Latin. Walaupun ia menulis sebuah buku bertema sepakbola, namun karya-karya yang dikeluarkan oleh Galeano kebanyakan bertema politik dan mengkritik salah satu kubu politik di Amerika Latin saat itu. Salah satu buku tersukses yang dia buat adalah Open Veins of Latin America yang kontroversial di tahun 1970an. Selain itu, Galeano juga menulis beberapa buku lainnya seperti Memory of Fire, Mirrors, Children of The Day, dan lain-lain.

Sayangnya ketika saya sedang membaca buku ini, sang penulis telah tiada 2 bulan yang lalu. Ya, Galeano meninggal dunia pada 13 April 2015 di usia 74 tahun karena penyakit kanker paru-paru. Tapi, hal ini tidak mengendurkan semangat saya untuk membaca buku yang terbilang cukup unik ini.

Sederhana saja mengapa buku ini cukup unik. Buku Soccer in Sun and Shadow memiliki 150 bab didalamnya. Ya, untuk ukuran karya nonfiksi seperti ini, 150 bab bisa dibilang terlalu banyak. Dan lebih unik lagi, setiap bab terdiri atas satu halaman saja, bahkan kurang dari itu. Ada salah satu bab yang hanya terdiri dari 2 paragraf saja, dan itu terbilang cukup pendek, di antaranya pada bab Don’t Blink, Müller, dan The Bicycle Kick.  Mungkin bagi kalian yang terbiasa membaca satu bab buku dengan lebih dari 5 halaman, kalian akan kaget luar biasa ketika membaca ini. Namun kalian akan  merasakan ‘nikmat’ membaca satu bab dengan beberapa baris saja namun memiliki gaya tulisan sastra yang apik dan ‘berisi’. Bagi saya, ini adalah karya sastra bertema sepakbola terbaik yang pernah saya baca selama ini.

Tidak seperti buku-buku bertema sepakbola lain yang memiliki ilustrasi gambar berupa foto dan desain yang baik, buku ini hanya memiliki ilustrasi gambar berupa siluet hitam-putih. Siluet pemain bola sedang bermain dengan si kulit bundar, wasit yang sedang mengeluarkan sebuah kartu, malaikat yang meniupkan terompet hingga pasukan perang ada dalam buku ini. Salah satu gambar siluet yang membuat saya ingin loncat ke halaman selanjutnya karena terlihat agak seram adalah siluet barisan kelompok berbaju panjang seperti paus dengan topi baretnya namun wajahnya berbentuk seperti bola dengan segi enam di setiap sisinya.

Buku Soccer in Sun and Shadow berbicara tentang hal-hal seputar sepakbola. Di awal bab, kalian akan membaca pandangan Galeano mengenai hal-hal yang ada dalam sepakbola: pemain sepakbola (The Player), penjaga gawang (The Goalkeeper), wasit (The Referee), manager (The Manager), stadion (The Stadium) hingga media yang melakukan peliputan tentang sepakbola (The Specialist). Di pertengahan bab, Galeano menulis sejarah munculnya bola dan permainan sepakbola dengan aturan yang berkembang dari masa ke masa, invasi Inggris ke daratan Amerika Latin yang membawa pengaruh sepakbola ke dalam daerah itu, hingga perkembangan sepakbola di Amerika Latin. Menuju akhir bab, kalian akan membaca sepenggal kisah pemain legenda sepakbola seperti Maradona, Pele, Johan Cruyff, Eusebio, serta membawa kalian flash back pada Piala Dunia 1930 hingga 1994.

Sebagai mahasiswa yang pernah mencicipi mata kuliah Sastra, buku Soccer in Sun and Shadow memakai banyak pengandaian namun dikemas dengan begitu apik. Pengandaian Metafora yang ditampilkan pun juga membuat nilai sastra dalam buku ini begitu kuat. Bagi yang tidak tahu, Metafora adalah suatu kalimat yang menggambarkan pengandaian antara satu dengan yang lain, namun ditulis dengan makna tersirat dan tidak menggunakan kata penunjuk seperti kata bagaikan, bak, seperti, dan lain-lain. Salah satu bab yang menggunakan Metafora adalah The Theater, dimana dalam bab ini Galeano menggambarkan sebuah pertandingan sepakbola bak sebuah teater, pemain sebagai para aktor, dan manager adalah seorang sutradara dalam teater tersebut.

The players in this show act with their legs for an audience of thousands or millions who watch from the stands or their living rooms with their souls on edge. Who writes the play — the manager? This play mocks its author, unfolding as it pleases and according to the actors’ abilities. It definitely depends on fate, which like the wind blows every which way. That’s why the outcome is always a surprise to spectators and protagonists alike, except in cases of bribery or other inescapable tricks of destiny.

Selain teater, sepakbola juga digambarkan sebagai perang, dimana para pemain diibaratkan sebagai sebuah pasukan perang tanpa senjata yang membawa nama daerah tempat tinggalnya. Hal ini digambarkan Galeano dalam bab Choreographed War.

In soccer, ritual sublimation of war, eleven men in shorts are the sword of the neighborhood, the city, or the nation. These warriors without weapons or armor exorcise the demons of the crowd and reaffirm its faith: in each confrontation between two sides, old hatreds and old loves passed from father to son enter into combat.

Dari 150 bab  yang telah saya baca, salah satu favorit saya adalah The Goalkeeper, dimana Galeano menulis bagaimana tidak enaknya menjadi seorang penjaga gawang: rela pertama kali jadi ‘kambing hitam’ kekalahan suatu tim, memiliki warna pakaian yang sama dengan wasit, berdiri paling belakang diantara rekan satu tim hingga rela bekerja sendirian di bawah mistar gawang. Saya sangat menyukai cara Galeano mengemas kata demi kata sehingga terbentuklah lima paragraf dalam bab ini. Dan inilah penggalan kalimat favorit saya dari bab ini.
  
He wears the number one on his back. The first to be paid? No, the first to pay. It is always the keeper’s fault. And when it isn’t, he still gets blamed.

Sekali lagi, buku Soccer in Sun and Shadow merupakan karya sastra bertema sepakbola terbaik yang pernah saya baca, dan ditulis oleh sang maestro sastrawan terbaik dalam sejarah Amerika Latin. Sempat menganggap I Am Zlatan merupakan yang terbaik karena gaya tulisan sarkasme-nya, ternyata ada yang lebih bagus dari itu. Jika saya disuruh memberikan rating 1 hingga 5 di situs Goodreads terhadap buku karya Eduardo Galeano, saya akan beri nilai 4 dari 5.


Ketimbang kalian membaca buku Soccernomics yang penjelasannya terlalu rumit dan berbau matematika (dan belum tentu kalian memahami setiap bab dengan baik), saya sarankan kalian para pecinta sepakbola untuk membaca 2 hingga 10 paragraf yang ada dalam setiap bab buku Soccer in Sun and Shadow. Selamat membaca!


@TikaAuliaaa



0 komentar :

Posting Komentar