Resensiku: Soccer in Sun and Shadow
Saya bukanlah orang yang ahli dalam menilai sebuah buku itu bagus atau tidak. Tapi percayalah, saat ini saya berusaha untuk menilai salah satu buku yang sedang saya baca saat ini.
Seminggu yang lalu saya browsing karya-karya literasi yang
bertema sepakbola namun judul bukunya jarang didengar oleh fans sepakbola, atau
istilah tepatnya anti-mainstream. Mungkin para pecinta kulit bundar
selalu familiar dengan literasi bertema sepakbola dengan model biografi maupun
otobiografi, sebut saja Alex Ferguson
Autobiography dan I Am Zlatan
yang merupakan favorit saya. Namun saat itu saya sedang bosan membaca literasi
seperti itu. Hal-hal berbau karya fiksi dan analisis sepakbola berbau ilmiah
yang sedang saya cari, dan pastinya konten beserta isi tulisan tidak seribet Soccernomics (jika kalian pernah membaca
buku ini, pasti kalian sangat setuju dengan pernyataan ini).
Dengan beberapa kata kunci yang saya cari, sang
mesin pencari mengantarkan saya pada satu situs yang akhirnya mengenalkan saya
dengan salah satu karya literasi bertema sepakbola yang sama sekali belum saya
dengar, namun dari judulnya cukup menarik perhatian saya untuk membaca lebih
lanjut.
Soccer in Sun and Shadow,
begitulah judul yang disematkan pada karya yang sedang saya cari ini. Jujur, saya belum pernah dengar atau
baca judul itu sebelumnya. Dan buku ini bukanlah rekomendasi dari portal online
berita sepakbola yang selalu saya kunjungi tiap hari. Ya, buku ini saya temukan
begitu saja. Soccer in Sun and Shadow bukanlah karya fiksi, melainkan sebuah
karya nonfiksi dimana buku ini menggambarkan hal-hal detail tentang sepakbola
dari pandangan kesusateraan. Buku ini ditulis oleh seorang jurnalis sekaligus
novelis Uruguay yang begitu terkenal, yaitu Eduardo Galeano. Awalnya, buku ini
ditulis dalam bahasa Spanyol dengan judul El
Fútbol a Sol y Sombra dan rilis pada tahun 1995. Kemudian buku ini
diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Mark Fried, yang sebelumnya telah
menerjemahkan karya-karya Galeano lainnya seperti Open Veins of Latin America.
Berbicara tentang Eduardo Galeano, dia adalah
salah satu penulis tersukses di Amerika Latin. Walaupun ia menulis sebuah buku
bertema sepakbola, namun karya-karya yang dikeluarkan oleh Galeano kebanyakan
bertema politik dan mengkritik salah satu kubu politik di Amerika Latin saat
itu. Salah satu buku tersukses yang dia buat adalah Open Veins of Latin America yang kontroversial di tahun 1970an.
Selain itu, Galeano juga menulis beberapa buku lainnya seperti Memory of Fire, Mirrors, Children of The Day,
dan lain-lain.
Sayangnya ketika saya sedang
membaca buku ini, sang penulis telah tiada 2 bulan yang lalu. Ya, Galeano meninggal dunia pada 13 April 2015
di usia 74 tahun karena penyakit kanker paru-paru. Tapi, hal ini tidak
mengendurkan semangat saya untuk membaca buku yang terbilang cukup unik ini.
Sederhana saja mengapa buku ini cukup unik. Buku
Soccer in Sun and Shadow memiliki 150 bab didalamnya. Ya, untuk ukuran karya nonfiksi seperti ini,
150 bab bisa dibilang terlalu banyak. Dan lebih unik lagi, setiap bab terdiri
atas satu halaman saja, bahkan kurang dari itu. Ada salah satu bab yang hanya
terdiri dari 2 paragraf saja, dan itu terbilang cukup pendek, di antaranya pada
bab Don’t Blink, Müller, dan The Bicycle Kick.
Mungkin bagi kalian yang terbiasa
membaca satu bab buku dengan lebih dari 5 halaman, kalian akan kaget luar biasa
ketika membaca ini. Namun kalian akan merasakan ‘nikmat’ membaca satu bab dengan
beberapa baris saja namun memiliki gaya tulisan sastra yang apik dan ‘berisi’.
Bagi saya, ini adalah karya sastra bertema sepakbola terbaik yang pernah saya
baca selama ini.
Tidak seperti buku-buku bertema sepakbola lain
yang memiliki ilustrasi gambar berupa foto dan desain yang baik, buku ini hanya
memiliki ilustrasi gambar berupa siluet hitam-putih. Siluet pemain bola sedang
bermain dengan si kulit bundar, wasit yang sedang mengeluarkan sebuah kartu,
malaikat yang meniupkan terompet hingga pasukan perang ada dalam buku ini.
Salah satu gambar siluet yang membuat saya ingin loncat ke halaman selanjutnya
karena terlihat agak seram adalah siluet barisan kelompok berbaju panjang
seperti paus dengan topi baretnya namun wajahnya berbentuk seperti bola dengan
segi enam di setiap sisinya.
Buku Soccer in Sun and Shadow berbicara tentang hal-hal seputar
sepakbola. Di awal bab, kalian akan membaca pandangan Galeano mengenai hal-hal
yang ada dalam sepakbola: pemain sepakbola (The Player), penjaga gawang (The
Goalkeeper), wasit (The Referee), manager (The Manager), stadion (The Stadium) hingga
media yang melakukan peliputan tentang sepakbola (The Specialist). Di pertengahan
bab, Galeano menulis sejarah munculnya bola dan permainan sepakbola dengan
aturan yang berkembang dari masa ke masa, invasi Inggris ke daratan Amerika
Latin yang membawa pengaruh sepakbola ke dalam daerah itu, hingga perkembangan
sepakbola di Amerika Latin. Menuju akhir bab, kalian akan membaca sepenggal
kisah pemain legenda sepakbola seperti Maradona, Pele, Johan Cruyff, Eusebio,
serta membawa kalian flash back pada
Piala Dunia 1930 hingga 1994.
Sebagai mahasiswa yang pernah
mencicipi mata kuliah Sastra, buku Soccer
in Sun and Shadow memakai banyak pengandaian namun dikemas dengan begitu
apik. Pengandaian Metafora
yang ditampilkan pun juga membuat nilai sastra dalam buku ini begitu kuat. Bagi
yang tidak tahu, Metafora adalah suatu kalimat yang menggambarkan pengandaian
antara satu dengan yang lain, namun ditulis dengan makna tersirat dan tidak
menggunakan kata penunjuk seperti kata bagaikan,
bak, seperti, dan lain-lain. Salah satu bab yang menggunakan Metafora
adalah The Theater, dimana dalam bab
ini Galeano menggambarkan sebuah pertandingan sepakbola bak sebuah teater,
pemain sebagai para aktor, dan manager adalah seorang sutradara dalam teater
tersebut.
The players in this show act with their legs for an audience of thousands or millions who watch from the stands or their living rooms with their souls on edge. Who writes the play — the manager? This play mocks its author, unfolding as it pleases and according to the actors’ abilities. It definitely depends on fate, which like the wind blows every which way. That’s why the outcome is always a surprise to spectators and protagonists alike, except in cases of bribery or other inescapable tricks of destiny.
Selain teater, sepakbola juga digambarkan sebagai
perang, dimana para pemain diibaratkan sebagai sebuah pasukan perang tanpa
senjata yang membawa nama daerah tempat tinggalnya. Hal ini digambarkan Galeano
dalam bab Choreographed War.
In soccer, ritual sublimation of war, eleven men in shorts are the sword of the neighborhood, the city, or the nation. These warriors without weapons or armor exorcise the demons of the crowd and reaffirm its faith: in each confrontation between two sides, old hatreds and old loves passed from father to son enter into combat.
Dari 150 bab yang telah saya baca, salah satu favorit saya
adalah The Goalkeeper, dimana Galeano
menulis bagaimana tidak enaknya menjadi seorang penjaga gawang: rela pertama
kali jadi ‘kambing hitam’ kekalahan suatu tim, memiliki warna pakaian yang sama
dengan wasit, berdiri paling belakang diantara rekan satu tim hingga rela
bekerja sendirian di bawah mistar gawang. Saya sangat menyukai cara Galeano
mengemas kata demi kata sehingga terbentuklah lima paragraf dalam bab ini. Dan
inilah penggalan kalimat favorit saya dari bab ini.
He wears the number one on his back. The first to be paid? No, the first to pay. It is always the keeper’s fault. And when it isn’t, he still gets blamed.
Sekali lagi, buku Soccer
in Sun and Shadow merupakan karya sastra bertema sepakbola terbaik yang
pernah saya baca, dan ditulis oleh sang maestro sastrawan terbaik dalam sejarah
Amerika Latin. Sempat menganggap I Am Zlatan merupakan yang terbaik karena gaya
tulisan sarkasme-nya, ternyata ada yang lebih bagus dari itu. Jika saya disuruh
memberikan rating 1 hingga 5 di situs Goodreads terhadap buku karya Eduardo
Galeano, saya akan beri nilai 4 dari 5.
Ketimbang kalian membaca buku Soccernomics yang penjelasannya terlalu rumit dan berbau matematika
(dan belum tentu kalian memahami setiap bab dengan baik), saya sarankan kalian
para pecinta sepakbola untuk membaca 2 hingga 10 paragraf yang ada dalam setiap
bab buku Soccer in Sun and Shadow.
Selamat membaca!
@TikaAuliaaa

0 komentar :
Posting Komentar