Karena Jadi Mahasiswa Sastra Itu, Menyenangkan!

Rabu, 01 Februari 2017

Karena Jadi Mahasiswa Sastra Itu, Menyenangkan!


Salah Satu Quote Terbaik dari Seorang Helen Keller.
Sumber: Tumblr


Tiga tahun yang lalu, gue mungkin merasa kecil hati dan sebel dengan omongan orang-orang ketika gue memutuskan untuk ambil jurusan Sastra Inggris setelah menempuh tiga tahun di Sekolah Kejuruan itu. Mereka kebanyakan berkata “Loh kenapa masuk jurusan Sastra Inggris? Prospek kamu ke depannya apa?” Atau mungkin begini “Yah, masa sekolah kamu Perkantoran terus kuliahnya yang Bahasa Inggris? Kan gak nyambung.” Dan bisa aja lebih menyakitkan seperti, “Kuliah di jurusan itu mau jadi apa? Guru?” Hiks, sedih deh.

Hal seperti ini gak cuma dirasakan gue pribadi, tetapi ribuan mahasiswa Sastra (jurusan Sastra gak cuman Sastra Inggris aja, ada Sastra Indonesia, Sastra Jepang, Sastra Prancis, dll) di luar sana juga merasakan hal yang sama. Ada yang keyakinan kuliah di Sastra-nya goyah dari awal semester, ada juga yang mesti berhenti di tengah jalan karena merasa tidak mendapat passion yang bagus atau nilainya selama beberapa semester buruk banget. Namun, banyak juga mahasiswa Sastra yang bertahan sampai tingkat akhir dan lulus wisuda. Porsinya justru lebih banyak ketimbang mahasiswa-mahasiswa yang gugur di medan perang akademik.

Bagi beberapa orang di luar sana dengan perspektif konservatif, kuliah Sastra tak ada artinya sama sekali. Namun bagi gue pribadi, selama tiga setengah tahun menjalankan perkuliahan, gue merasa bersyukur bisa merasakan hal-hal yang luar biasa yang gak bisa dinikmati oleh mahasiswa jurusan lainnya. Bukan bermaksud sombong, tapi ingin membuktikan pada kritikus pembanding jurusan kuliah di luar sana bahwa banyak hal yang dilakukan mahasiswa Sastra di kampus, dan semuanya tentunya punya nilai tersendiri yang jelas berbeda dengan anak-anak jurusan lainnya.

Kuliah di jurusan Sastra tak melulu belajar soal bahasa dan antek-antek grammar ala lembaga kursus. Banyak hal lain yang dipelajari di sini. Dan hal-hal inilah yang patutnya disyukuri kalian para mahasiswa Sastra di manapun kalian berada saat ini.



1. No Math, No Worries. Because...


Karena hampir semua anak Sastra benci Matematika. Iya gak?
Sumber: Tumblr 

Mahasiswa Sastra bersyukur banget karena selama empat tahun kuliah, tidak ada satu mata kuliah (matkul) pun yang berhubungan dengan angka, rumus, dan hitung-hitungan. Lihat saja jadwal matkul anak sastra dari semester satu sampe delapan, ada gak matkul semacam “Matematika 1” atau “Statistika”? Gak ada kan? Jelas banget. Hal ini bisa dimaklumi karena mostly belajarnya anak Sastra itu lebih menjurus pada kata dan kalimat ketimbang angka, dan juga skripsi mahasiswa sastra kebanyakan menggunakan metode kualitatif sehingga gak perlu belajar matkul hitung-hitungan.

Makanya tampang mahasiswa Sastra kebanyakan lebih segar dan gak kaku karena hidup mereka santai tanpa ribet hapalin rumus ini itu dan gak pusing kalau hitungannya salah. Selain itu, buat para haters pelajaran Matematika pas sekolah dulu, jurusan ini tepat jadi tempat pelarian dari urusan angka-angka. Gue mungkin adalah salah satunya, hehehehe.


2. Update Film atau Novel baru? Mahasiswa Sastra Emang Juara Banget!


Saking update-nya, bacaannya numpuk begini. Eh kenyataannya gini juga ga sih? :))
Sumber: Tumblr

Mahasiswa Sastra paling update banget soal urusan film atau buku keluaran baru. Bahkan karya sastra jadul pun mereka tahu. Karena obrolan sehari-hari di jam kelas berhubungan dengan karya sastra, anak sastra dituntut untuk “tahu banget” karya-karya keluaran baru. Mereka tahu betul kapan film nominasi Oscar kayak La La Land ditayangin di Indonesia, atau spoiler cerita di episode terbaru series Sherlock, atau juga iseng ngecek kapan pengarang buku terkenal kayak J.K. Rowling dan Dan Brown publish buku terbaru lagi.

Tujuan mereka untuk cari karya sastra keluaran baru bukan hanya untuk pengetahuan semata aja, tapi juga sekalian hunting bahan untuk skripsi. Maklum aja, skripsi-nya mahasiswa Sastra harus menggunakan karya sastra keluaran terbaru, at least keluaran 2010-an ke atas. Kebijakan di kampus gue memang seperti itu, walaupun gak menutup kemungkinan untuk pakai karya sastra keluaran lama. Selain itu, mereka harus mengenal pula beberapa karya jadul yang dianggap klasik (atau bahasa kerennya sih canon), salah satunya sih karyanya William Shakespeare. Waaah, kalo Shakespeare sih udah pasti karyanya wajib dibaca anak Sastra, sih. Apalagi anak Sastra Inggris macem gue, Mwehehe, mantap jiwa yekan anak Sastra?

3. Mahasiswa Sastra itu Pemikirannya Kritis Banget

Yaaa gitu deh, dikit-dikit komen, dikit-dikit kritik.
Sumber: Tumblr

Di jurusan sastra, kerjaan mahasiswanya gak cuman baca-nonton-baca-nonton doang. Tapi mereka dituntut untuk bisa analisis dan kritik karya sastra tersebut. Kritiknya bisa dari penokohan, jalan cerita, atau bisa juga dari sinematografi serta unsur-unsur lainnya seperti sejarah hingga biografi si pengarang. Mostly sih anak sastra bakal lebih seneng kritik hal yang kira-kira “gak sreg” sama apa yang mereka perhatikan. Misalkan, jalan cerita dari novel A janggal karena si tokohnya marah-marah sendiri di tempat ramai tapi gak ada satupun yang respon. Atau juga penggunaan sinematografi di film thriller berjudul B di mana sutradaranya berani menggunakan warna-warni ala pelangi, padahal film thriller kebanyakan bertema gelap dan terlihat lebih suram.

Anak sastra juga dituntut lebih peka terhadap hal detil yang ada dalam karya sastra sehingga kebanyakan anak sastra punya kepekaan yang tinggi terhadap sesuatu juga. Tiati dah kalo mau bikin kode sama anak sastra (Ihiiiiy). Oh iya, kuliah di jurusan Sastra cocok banget untuk kalian yang hobi banget kritikin orang dari berbagai macam perspektif, karena di sinilah Sastra adalah wadah yang tepat untuk para kritikus muda yang berkarya. Ahseeek!

4. Anak Sastra pun juga belajar Psikologi, Sosiologi, dan Filsafat. Sigmund Freud, Karl Marx, Virginia Woolf, kenal banget!

Belajar Psikoanalisis-nya Freud cuman paham yang ini doang. Maafkan daku :(
Sumber: Pinterest

So, siapa bilang belajar Sastra melulu soal bahasa aja? Salah banget! Justru di sinilah, Sastra menjadi suatu kajian yang sangaaaaat luas. Saking luasnya, Sastra bisa dikaitkan dengan kajian di bidang apapun, seperti budaya, sosial, filsafat, sejarah, psikologi, bahkan politik dan ekonomi pun bisa masuk loh!

Dari segi budaya, tentunya anak Sastra bakal dijejelin kajian Multikulturalisme atau Antropologi Sastra. Dari segi psikologi, anak Sastra paham betul sama urusan Psikoanalisis dan sang sesepuh (sesepuh!) bernama Sigmund Freud yang menjadi kebanggaan mahasiswa Psikologi. Atau dari segi sosial, mahasiswa Sastra diajarkan Feminisme dan hubungannya dengan dunia literatur. Nah, dari teori-teori kajian yang disebutkan ini pada akhirnya bakal dihubungkan dan dianalisis dengan karya sastra yang ada.

Pastinya, untuk menganalisis karya sastra dan menghubungkannya dengan kajian yang gue sebutin tadi, prosesnya gak bisa sembarangan loh. Butuh waktu yang lama untuk memahami kajiannya dan juga proses penulisan analisisnya. Itulah hal tersulit yang dialami anak Sastra kebanyakan, yang stress tiap hari mikirin teori yang cocok untuk analisis satu karya sastra. Apalagi skripsi anak Sastra hampir semuanya bakal kayak gini. But after all, analisis sastra dengan model kayak gini lebih seru dan lebih menantang loh!

5. Mahasiswa Sastra itu, Kreatif!

Kreativitas itu layaknya air, harus mengalir dan jalan terus...
Sumber: Tumblr

Walaupun mahasiswa Sastra lumayan stress jika berurusan dengan tugas analisis dan kritik, namun kalo tugas kuliahnya bikin suatu karya, anak Sastra emang juara banget! Malah justru, semangat mereka untuk buat karya lebih tinggi ketimbang membuat suatu paper analisis. Alasannya sih simple banget. Pertama, membuat karya sastra itu butuh imajinasi tingkat tinggi dan semuanya mengalir dari dalam pikiran si penulis. Otomatis, mereka-mereka yang menulis karya sastra akan lebih mudah mengerjakannya ketimbang menulis paper analisis berlembar-lembar yang butuh pemikiran yang super kritis. Kedua, sastra itu sifatnya bebas. Tentunya, dari prinsip kebebasan inilah, mahasiswa bisa menggunakan apapun yang ia punya untuk mengekspresikan pikirannya ke dalam tulisan. Dan pada akhirnya, kebebasan menghasilkan sebuah kreativitas.

Salah satu tugas yang pernah gue kerjakan saat itu adalah gue bikin sebuah concrete poem. Bagi kalian yang belum familiar dengan istilah ini, concrete poem adalah sebuah puisi yang dibentuk secara bebas dan memiliki desain tersendiri. Kalian bisa menemukan puisi berbentuk bunga, matahari, bahkan pola yang gue bikin di bawah ini.

Sebatas puisi receh yang menyiratkan lelahnya kuliah. Btw, bacanya mulai dari mana, nih?
Sumber: Pribadi


6. UAS-nya Mahasiswa Sastra? Main Drama!    

Seonggok gambar dari tugas drama kemaren. Kok keliatannya thriller banget, ya?
Sumber: Pribadi

Masih berhubungan dengan poin nomor lima, yaitu kreativitas. Beberapa mahasiswa Sastra dari berbagai kampus pastinya dituntut untuk membuat suatu karya sastra, baik berupa prosa, puisi, bahkan drama sekalipun. Dan buat gue, drama adalah tugas kampus yang paling sering dilakukan mahasiswa Sastra. Entah itu untuk tugas formatif, tugas UTS, atau tugas UAS. Yang penting tugasnya pentasin karya drama!

Drama yang ditampilkan bisa berupa drama dengan teks yang memang original buatan mahasiswa, atau juga teks adaptasi dari naskah drama sebelumnya. Kebanyakan sih mahasiswa Sastra cenderung bikin naskah adaptasi karena struktur cerita dan karakterisasi tokohnya sudah tergambar jelas di teks sebelumnya. Mahasiswa hanya mengubah beberapa bagian saja dari naskah tersebut, baik itu dari segi budaya, tutur bahasa, nama tokoh, bahkan ada yang sampai mengubah akhir cerita. Apapun yang diubah, pastinya teks adaptasi tentunya harus memiliki benang merah yang sesuai dengan teks sebelumnya.

Dan beberapa waktu yang lalu, gue ditugaskan sebagai penulis naskah untuk salah satu drama adaptasi karya Henrik Ibsen berjudul “A Doll’s House.” FYI, “A Doll’s House” merupakan teks drama klasik asal Swedia yang katanya cukup kontroversial di zamannya (kurang lebih sekitar abad ke-19) karena mengangkat isu perempuan di dalamnya. Tugas gue sebagai penulis naskah di sini adalah mengubah budaya Swedia yang ada dalam “A Doll’s House” menjadi budaya multikultural Jakarta. Tentunya dengan pergeseran budaya ini, gue harus mengubah tutur kata, penamaan tokoh, dan lain-lain. Karena “A Doll’s House” ceritanya sangat serius dan membosankan, gue dengan usaha semaksimal mungkin mengubah beberapa cerita menjadi lucu dan menghibur, namun tetap memberikan nuansa yang mencekam di akhir cerita (yaaah spoiler deh). Mungkin kalau gue ada waktu, gue bakal menulis artikel khusus tugas drama yang satu ini. Pokoknya, mementaskan drama itu seru banget! Selain seru, pementasan drama ini juga menjadi pengalaman tersendiri buat mahasiswa Sastra dalam organize kegiatan yang berhubungan dengan sastra. Intinya sih seru banget!!

Mungkin ini adalah sedikit dari ribuan alasan kenapa gue bersyukur banget masuk jurusan Sastra. Bukan tujuan promosi jurusan karena tulisan gue gak dibayar pihak kampus, bukan itu. Walaupun tulisan gue memang ala kadarnya dan tidak mengandung kalimat-kalimat puitis khas penulis sastra tingkat dewa, setidaknya ini mampu menjadikan reminder bagi kalian yang lagi desperate banget untuk lanjut kuliah Sastra, atau yang lagi butuh suntikan semangat sebelum memasuki semester baru mulai, atau juga sebagai nostalgia masa-masa kuliah dulu.

Pokoknya, long life mahasiswa Sastra!





@TikaAuliaaa

2 komentar :