The Best Player Ever on My View
Jika lo ditanya 'siapakah pemain terbaik menurut lo?', gue akan menjawab pertanyaan ini sesuai dengan era ketika gue lahir dan mengenal sepakbola. Gue lahir di pertengahan tahun 90an, dan gue gak mungkin jawab pertanyaan ini dengan menyebut pemain seperti Diego Maradona, Pele atau George Best (mereka bermain sepakbola di kisaran tahun 50-80an, dan gue pun belum lahir di era itu). Gue pun juga gak akan jawab apabila pemainnya seperti David Beckham, Zinedine Zidane ataupun Philippo Inzaghi. Walaupun gue sangat mengagumi mereka, tetapi zaman keemasan mereka ada di awal tahun 2000an, dan sialnya gue belum tahu apa-apa soal sepakbola. Gue mungkin banget sebut pemain seperti Cristiano Ronaldo, Lionel Messi ataupun Wayne Rooney, karena gue sudah mulai mengenal sepakbola dan tahu seluk beluk serta tetek bengek didalamnya. Sayangnya gue gak mau menjawab tiga nama itu. Nama-nama mereka terlalu mainstream untuk dijadikan sebagai pemain terbaik dunia. Sudah banyak orang yang mengakui itu.
Lalu, siapa pemain yang lo maksud, Tik?
Sederhana. Dia bukan pemain terbaik yang dielu-elukan seperti Ronaldo atau Messi. Namanya pun kalah bersinar dibanding rekan setimnya (salah seorang teman gue mengakui hal ini). Walaupun kontribusi dia bagus banget di tim, tapi sayang aja, kurang diapresiasi oleh klub, fans bahkan media sekalipun. Sampai pada akhirnya, Final Liga Champions 2014 merubah segalanya.
Awal pertama kali gue mengagumi pemain ini ketika memasuki akhir tahun 2011. It's been more than 3 years already. Alasan gue kenapa suka dengan pemain ini sungguh konyol, tapi gue gak mau kasih tau alasannya. Dan ketika gue melihat pertandingan dimana pemain ini bermain, gue begitu antusias menonton dan terpukau dengan skill olah bola yang enggak biasa gue lihat. Masih ingat ketika gue melihat pemain ini untuk pertama kali, dia mencetak gol dan assist ke salah satu pemain. Gue lupa siapa tim lawannya, yang pastinya itu adalah momen yang buat gue suka sama pemain ini. Kalo kalian pernah merasakan bagaimana jatuh cinta, itulah yang gue rasa saat itu. Oke, gue emang cukup berlebihan.
3 years ago, gue mengagumi para aktor lapangan hijau alias pesepakbola hanya dari tampang yang enak dilihat aja. No matter they play good or bad, as long as they're handsome, I would adore them a lot. Bahkan sampe sekarang prinsip kampret ini tetap gue jaga. Tapi pemain yang satu ini, ya, pemain yang gue ceritakan di paragraf terakhir, I didn't adore him from the way he looks. Nope. Tampangnya aja udah sukses jadi bahan olok-olok meme di social media manapun. Nonetheless, he indirectly taught me that to adore footballers is not about how they look, but how they play on the pitch. Skill itu paling utama dalam permainan sepakbola, bukan tampang bagus dengan tatanan rambut rapih sehabis dari salon. Dan dari sini pula gue mempelajari karakteristik skill nya yang khas Amerika Latin : dancing while running. Ada aja atraksi skill yang buat gue terpukau. Dari sini pula, gue mulai belajar tentang hal-hal mendetail soal sepakbola, seperti macam-macam posisi pesepakbola, formasi, aturan free kick bahkan offside sekalipun (iya gue tahu gue cewek, baru tahu bola).
Gue selalu ngikutin perkembangan dia di klub nya, walaupun dia saat itu enggak (lebih tepatnya belum) bermain di klub favorit gue. Gue selalu nonton pertandingan dimana timnya bermain, asalkan nama dia ada di deretan starting line up. Kadang ada, kadang enggak. Untungnya dia selalu dimainkan oleh para pelatihnya. Kalau dia gak dimainkan atau diganti di babak kedua, gue selalu mematikan TV dan bergegas tidur, atau tetep nonton tapi gak totally fokus sama pertandingannya. Pemain ini emang satu-satunya alasan gue rela begadang nonton pertandingan timnya. Dan ketika pemain ini pindah ke klub lain, keinginan gue buat nonton pertandingan tim yang telah membesarkan namanya berkurang, walaupun itu 'big match', 'El Grande de partido', atau nama sejenisnya.
Berbicara tentang pemain ini, dia adalah seorang Argentina yang lahir tepat di hari Valentine. Lahir dari keluarga yang memiliki keturunan Italia, dia memang dikenal sangat hiperaktif. Bahkan saat dia bayi, dokter sudah mendiagnosanya dan menyarankan orangtuanya agar sang bayi bermain sepakbola agar karakter 'hiperaktif' nya tersalurkan dengan baik. Diagnosa si dokter memang tak bohong, kita bisa menyaksikan sosok pemain ini berlari dengan begitu cepat, lincah kesana kemari, dan aktif sekali menyusuri lapangan dari sisi kiri maupun sisi kanan.
Memulai karir juniornya di sebuah klub yang bermarkas di kota yang sama ketika seorang Lionel Messi lahir, si pemain ini akhirnya berani melanjutkan petualangan sepakbola menuju Eropa. Dan mendarat di sebuah kota bernama Lisbon. Bersama tim Lisbon yang terkenal dengan maskot elangnya, pemain bernomor punggung 20 kala itu sukses menjuarai Primeira Liga dan Taça da Liga (semacam FA Cup nya Portugal). Di masa emasnya pula, kala itu, dia sukses membawa timnas Argentina U23 mendapat medali emas Olimpiade Beijing 2008 dengan gol semata wayangnya kala melawan Nigeria.
Setelah puas bermain di Portugal, dia ingin menantang dirinya untuk berlabuh ke negeri tetangga dimana tensi sepakbola lebih tinggi dari Portugal. Bersama tim kaya raya itu, dia mendapatkan segalanya : La Liga, Copa del Rey, bahkan Liga Champions yang sudah 12 tahun tidak diraih akhirnya terwujud juga. Hal yang buat gue terharu di Final Liga Champions itu ketika screenboard stadion Lisbon menunjukkan gambar dan nama pemain itu sebagai 'Man of The Match', sang pemain duduk terjongkok, menutup wajahnya seraya menangis. Yeah, walaupun dia tidak mencetak satu gol ataupun assist, tapi dia adalah satu-satunya pemain yang punya antusias tinggi dan penuh semangat mengejar bola kesana kemari disaat timnya sedang tertinggal sebiji gol. Hal yang gak gue lihat dari rekan timnya yang lain dalam waktu 120 menit itu. He totally deserve it.
Sempat digosipkan akan hengkang dari tim kaya raya itu karena beberapa hal. Dan yang paling kuat adalah ketika seorang mantan bek yang menjelma menjadi primadona Premier League bergabung dengan tim kaya raya dengan status 'The most expensive paid in the History of Transfer Window'. Posisi asli sang 'Mie' sempat terancam, dan sangat terancam. Media ramai-ramai memberitakan si pemain ini akan hengkang ke tim kaya raya lain berlogo 'La Tour Eiffel'. Beruntunglah, keinginan sang pelatih dan Financial Fair Play menyelamatkannya sehingga dia tetap bertahan dan menjalani musim terbaiknya di tim kaya itu (sekaligus juga jadi musim terakhirnya).
Sekuat-kuatnya seseorang bertahan di suatu tempat, pada akhirnya dia pergi juga. Begitu pula dengan pemain ini. Sang Presiden klub yang terkenal punya gengsi tinggi itu dengan nekatnya membeli seorang 'The Rising Star' hasil comotan Piala Dunia dengan harga tinggi. Sialnya, si 'The Rising Star' ini memiliki posisi yang serupa dengan sang 'Mie' sehingga membuatnya lebih sering duduk di bangku cadangan. He's not such a 'bench warmer boy' that he intended to leave later on.
Dan ini momen terfavorit gue. Ketika salah satu klub Inggris yang ditinggal manager kesayangannya dan baru saja memecat sang suksesor beberapa bulan setelahnya akhirnya mengincar tandatangan sang pemain ini. Dengan dana yang cukup besar hasil sponsor sana sini, klub Inggris yang terkenal dengan logo Setan ini, akhirnya, secara resmi, membeli pemain ini dengan mahar £59,7 juta dan didapuk sebagai 'The Most Expensive paid Transfer Windows in Great Britain'.
Sebelumnya, 3 tahun yang lalu pula, gue sangat mendambakan pemain ini bermain di klub favorit gue. Sangat, sangat dan sangat mendambakan. Ini serius. Dan akhirnya itu terwujud juga, pada akhir Agustus 2014. How dream comes true, baby!!! He finally signed The Red Devils!!!
Walaupun telah meninggalkan tim kaya raya itu, tetapi dia tetap mendapatkan penghargaan pribadi yang jauh lebih banyak ketimbang saat dia masih bersama tim warna putih itu. Menjadi pemain Argentina terbaik tahun 2014 dan sukses mematahkan rekor Messi sejak 2006, lalu diikuti pula dengan masuknya nama sang 'Mie' kedalam UEFA Team of Year2014.
Dan yang terakhir, yang buat perhatian gue lenyap dari hiruk pikuk perebutan Ballon d'or antara Ronaldo, Messi dan Neuer adalah ketika sang pemain itu berhasil masuk kedalam FIFA/FIFPro World XI 2014, bersama dengan Toni Kroos dan Andres Iniesta di bagian Midfielder.
Dan dia adalah satu-satunya wakil dari Premier League yang berada di line up FIFA/FIFPro World XI 2014!
| Well, at least you know the name of this man.. |
Dan inilah sang pemain terbaik di mata gue. Bukan Ronaldo, bukan Messi, bukan Neuer. Jika kalian menebak pemain ini dengan nama Angel Di Maria, intuisi kalian seputar sepakbola begitu baik :))
Cheers,
@TikaAuliaaa
0 komentar :
Posting Komentar